Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto menilai masyarakat lebih memilih menyimpan hasil panen sebagai stok cadangan pangan serta memelihara ternak ketimbang menyimpan dalam bentuk uang. Hal ini sudah menjadi kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun.
“Untuk panen pertama disimpan sebagai cadangan pangan. Baru setelah panen kedua, mulai menjual,” kata Heri kepada wartawan, Rabu (15/2/2023).
Dia menjelaskan, selama masa panen pertama sudah blusukan ke berbagai wilayah mulai dari sisi utara hingga timur Gunungkidul. hasil berbincang-bincang dengan para petani ada kesamaan pola perilaku berkaitan dengan hasil panen.
“Daripada langsung dijual. Warga lebih memilih menyimpan,” katanya.
Heri mengungkapkan, mayoritas petani Gunungkidul juga merangkap sebagai peternak. Hal ini dikarenakan warga tidak hanya menggarap sawah atau ladang, tapi juga memelihara kambing atau pun sapi yang bisa jadi aset tabungan.
“Daripada menyimpan dalam bentuk uang, warga pilih mewujudkannya dalam bentuk ternak. Tapi, ada juga yang menyimpan aset berupa tanaman keras seperti pohon jati, sengon dan lain sebagainya,” katanya.
Terkait dengan anggapan wilayah DIY yang termiskin, baginya bukan suatu hal yang harus dipersoalkan. Berdasarkan hasil blusukan lapangan diketahui banyak warga yang memiliki berbagai aset mulai dari ternak, hasil panen cadangan pangan hingga kayu-kayuan.
“Ya kalau ada kebutuhan mendesak. Bisa langsung menjualnya untuk menutupi kebutuhan,” katanya.
Heri menambahkan, di Kalurahan Tileng ada imbauan dari lurah agar warganya memelihara ternak minimal dua ekor. Kebijakan ini dibuat agar masyarakat bisa memiliki simpanan untuk cadangan kebutuhan sewaktu-waktu.
“Dengan begini bisa membentuk pertanian terpadu di masyarakat,” katanya.
BACA JUGA: Pelajar di Sleman Gantung Diri, Bikin Status Perpisahan dan Foto Tali Tambang di WA
Kepala Dusun Ngringin, Tileng, Girisubo, Eka Indriyanta membenarkan adanya imbauan agar warga memelihara ternak. Hal ini juga dilakukan di Dusun Tileng sehingga banyak warga yang memiliki ternak.
“Jadi sudah kebiasaan sejak dulu,” katanya.
Menurut dia, dengan memelihara ternak warga bisa memiliki aset sebagai tabungan. Selain itu, juga bisa menjadi penopang hidup karena dengan kolaborasi antara pertanian dan peternakan bisa saling melengkapi.
“Butuh pupuk bisa menggunakan kotoran dari ternak. Sedangkan, butuh pakan bisa memanfaatkan dari hasil pertanian. Tapi kalau ada kebutuhan mendesak bia menjual ternak untuk menutupinya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja terbaru 23 Mei 2026. Tarif Rp8.000, rute Palur–Tugu, cocok untuk komuter dan wisata.
Normalisasi sungai di Jogja terhambat pemangkasan anggaran. BBWSO dan Pemkot andalkan kolaborasi untuk tangani Kali Code.
Skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026 resmi dirilis. Phil Foden dan Cole Palmer tak masuk, ini daftar lengkap 26 pemain pilihan Tuchel.
Pemadaman listrik massal di Sumatera picu keluhan warga. PLN akui gangguan sistem, namun pelanggan soroti minimnya respons.
DPRD DIY ungkap persoalan serius perfilman Jogja, dari perizinan hingga perlindungan pekerja. Raperda disiapkan untuk menata industri.