63 Ribu Anak Gunungkidul Berpeluang Masuk Sekolah Rakyat
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
Ilustrasi kopi/Reuters
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul terus berupaya memperluas budidaya kopi robusta. Total hingga sekarang luasan budidaya mencapai 60 hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, pengembangan budidaya kopi sangat cocok dilakukan di sisi utara Gunungkidul. Hal ini tak lepas dari kondisi geografis berupa dataran tinggi.
“Sesuai dengan ketinggian yang ada, kopi yang dikembangkan paling cocok jenis robusta,” kata Rismiyadi kepada wartawan, Senin (6/3/2023).
BACA JUGA : Berjuluk Ratu Robusta, Perempuan Ini Bertekad Sejahterakan
Menurut dia, budidaya robusta sudah dimulai di kawasan wisata religi Gunung Gambar di Kalurahan Kampung, Ngawen sejak beberapa tahun lalu. Hingga sekarang budidaya di lokasi tersebut sudah mulai dipanen oleh petani setempat.
Menurut dia, upaya pengembangan juga dilakukan di Kalurahan Natah, Nglipar. Total luas lahan budidaya mencapai 5,6 hektare. Peresmian budidaya ini dilakukan oleh Bupati Gunungkidul Sunaryanta pada Senin pagi.
“Kalau ditotal luas budidaya kopi di Gunungkidul mencapai hampir 60 hektare,” katanya.
Rismiyadi menegaskan, lahan untuk budidaya kopi akan terus ditambah. Adapun lokasinya masih berada di zona Utara Gunungkidul.
“Tentunya dengan pengembangan ini diharapkan bisa menjadi sarana pendongkrak perekonomian masyarakat. Kami juga akan memberikan pendampingan agar budidaya dapat berhasil,” katanya.
Lurah Natah, Nglipar, Nur Wahyudi mengatakan, pengembangan budidaya kopi di Natah masih satu kawasan di objek wisata Embung Batara Sriten. Lahan pengembangan mencapai 5,6 hektare dan dikelola oleh kelompok tani muda.
BACA JUGA : Jangan Salah, DIY Punya Varietas Kopi Sendiri
“Sudah dilakukan penyemaian dan hasilnya bagus. Mudah-mudahan budidaya ini bisa berhasil,” katanya.
Ditambahkannya, program budidaya tidak hanya untuk pengembangan kopi. Ke depannya, di kawasan tersebut juga ditanami tanaman buah seperti durian, alpukat dan manggis.
“Bibitnya sudah siap dan tinggal ditanam. Diharapkan dengan penanaman tanaman buah ini juga sebagai langkah untuk mengurangi potensi terjadinya longsor,” katanya.
Wahyudi berharap budidaya ini tidak hanya untuk mendukung pengembangan objek wisata Embung Batara Sriten, tapi juga sebagai sarana pendongkrak kesejahteraan warga di lingkungan sekitar.
“Mudah-mudahan bisa berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 ribu anak di Gunungkidul masuk kriteria calon siswa Sekolah Rakyat 2026 untuk keluarga miskin dan anak putus sekolah.
UPN Jogja nonaktifkan dosen terduga pelaku kekerasan seksual. Kasus ditangani Satgas, korban dilindungi.
KPPN Wonosari ajak pemangku kepentingan tolak gratifikasi. Ini batasan yang masih diperbolehkan menurut aturan.
Pemerintah siapkan jutaan lapangan kerja dari hilirisasi, pangan, hingga ekonomi hijau. Ini sektor paling menjanjikan.
Kemenhub dorong Kertajati jadi pusat MRO nasional. Bandara ini diproyeksikan jadi hub penerbangan dan logistik.
PDAM Sleman petakan wilayah rawan air saat kemarau 2026. Godean hingga Pakem berpotensi alami tekanan rendah.