8 SPPG di Gunungkidul Belum Beroperasi, Ribuan Siswa Tunggu MBG
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Kebakaran lahan/hutan - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jumlah kebakaran di Gunungkidul melonjak signifikan di tahun ini. Hal itu berdampak terhadap alokasi anggaran pemadaman milik UPT Pemadam Kebakaran Gunungkidul yang hampir habis.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran Gunungkidul, Handoko mengatakan, hingga akhir Oktober sudah ada 120 peristiwa kebakaran yang tersebar di 18 kapanewon. Jumlah ini naik signifikan dibandingkan kejadian di 2022 sebanyak 50 kasus.
“Kenaikannya sangat banyak dan didominasi kebakaran lahan,” kata Handoko kepada wartawan, Kamis (9/11/2023).
Menurut dia, kejadian kebakaran yang melonjak berdampak terhadap alokasi anggaran yang dimiliki. Meski tidak menyebut nominal, Handoko mengakui dana tersisa hanya untuk membeli 30 tangki air.
“Memang mau habis anggaran. Sebab, tahun ini yang harus dipadamkan sangat banyak,” ungkapnya.
Untuk memastikan upaya pemadaman tetap berjalan, sudah mengambil langkah meminta tambahan anggaran. Selain itu, juga ada proses pergeseran mata anggaran prioritas untuk menambah pagu yang dimiliki.
“Kami pastikan upaya pemadaman tetap berjalan. Salah satunya dengan pencermatan untuk pergeseran anggaran. Tapi, pelaksanaan harus dilakukan secara hati-hati dan teliti,” katanya.
BACA JUGA: Kasus Kebakaran Lahan Mendominasi di Gunungkidul
Kepala Tata Usaha, UPT Pemadam Kebakaran Gunungkidul, Ngadiyono mengatakan, kebakaran meningkat pesat saat musim kemarau. Di sisi lain, upaya pemadaman juga lebih sulit karena embusan angin dan stok air yang makin menipis karena debit sumber berkurang.
“Kami mengimbau kepada Masyarakat untuk terus berhati-hati akan potensi kebakaran,” katanya.
Upaya antisipasi bisa dilakukan dengan rutin mengencek instalasi listrik di rumah, memakai peralatan berstandar nasional Indonesia (SNI). Selain itu, saat meninggalkan rumah harus memastikan peralatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran tidak menyala.
“Kebakaran juga disebabkan adanya unsur kelalaian manusia. Missal membakar sampah terus ditinggal sehingga bisa menyebabkan kebakaran yang lebih besar. Jadi, harus berhati-hati pada saat beraktivitas,” katanya.
Ngadiyono mencatat sepanjang 2023 sudah ada 75 kebakaran lahan. Luas kebakaran mencapai 70 hektare yang tersebar di 11 kapanewon meliputi Wonosari, Semin, Purwosari, Rongkop, Karangmojo, Playen, Ngawen, Paliyan, Semanu, Nglipar hingga Ponjong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Pemkab Gunungkidul menyiapkan strategi bertahap mengatasi monyet ekor panjang yang merusak lahan pertanian, termasuk menggandeng UGM.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berpeluang menjadi ekonomi terbesar keempat dunia dalam 25 tahun mendatang.
Pemda DIY mengantisipasi dampak El Nino dengan memastikan stok pangan, pengelolaan air, dan mitigasi kekeringan di wilayah rawan.
Penyempurnaan Suzuki Xl7 Resmi Meluncur, Makin Tegas Dengan Fitur Bermakna
Changan Indonesia meluncurkan Nevo Q05 di GIIAS 2026 dengan harga mulai Rp309 juta dan telah dirakit secara lokal di Purwakarta.