27 Trash Barrier Dipasang di Sungai Kota Jogja Tahun Ini
Pemkot Jogja menambah sembilan trash barrier di empat sungai untuk menahan sampah dan menjaga kebersihan aliran sungai.
Nyamuk - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Kasus Demam Berdarah (DBD) di Bantul pada Januari-April 2024 setara dengan jumlah kasus selama tahun 2023. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menduga cuaca ekstrem menjadi penyebab peningkatan kasus tersebut.
Berdasarkan catatan Dinkes Bantul jumlah jumlah penderita DBD pada Januari-April 2024 ada sekitar 130 orang. Sementara jumlah penderita DBD di Bantul tahun 2023 mencapai 133 orang.
BACA JUGA: Pilkada Bantul: Bawaslu Buka Pendaftaran Panwascam untuk 5 Kecamatan, Ini Syaratnya
“Kasus DBD sampai bulan Mei [2024] ada peningkatan dibandingkan tahun lalu. Sekarang [kasus DBD] jumlahnya sudah menyamai satu tahun kemarin,” ujarnya di Pendopo Parasamya Pemkab Bantul, Jumat (3/5/2024).
Menurut Agus rentang usia pasien yang terkena DBD beragam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Agus menilai kenaikan kasus DBD tersebut disebabkan lantaran cuaca ekstrem yang terjadi belakangan. Menurutnya, ketika cuaca panas terik lalu berubah menjadi hujan, berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk.
“Cuaca ekstrem ini berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk. Saat musim hujan, [perkembangbiakan nyamuk] cukup tinggi karena ada genangan air,” ujarnya.
Dia menyampaikan Kapanewon Pleret menjadi wilayah dengan kasus DBD tertinggi pada awal tahun ini. Disana ada 34 kasus demam berdarah. Sementara Kapanewon Imogiri menduduki peringkat kedua kapanewon dengan kasus DBD tertinggi dengan 27 kasus.
Sementara menurut Agus meski kasus DBD pada awal tahun ini meningkat drastis dibandingkan tahun lalu, menurutnya tidak ada kasus pasien yang meninggal karena DBD.
“[Pasien DBD] enggak ada yang meninggal, semua [pasien DBD] yang didiagnosa DBD tidak ada kematian,” katanya.
Agus menilai tingginya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ketika mengalami gejala DBD menjadi penyebab tidak ada kasus pasien DBD yang meninggal. Selain itu, menurut Agus, pelayanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) yang tepat juga menjadi penyebab tidak ada pasien yang terlambat mendapatkan penanganan.
BACA JUGA: Pemkab Bantul Minta ASN Bikin Biopori dan Memilah Sampah Rumah Tangga
Menurut Agus, pihaknya melakukan upaya pengasapan (fogging) untuk mengantisipasi kasus DBD terus meningkat. Dia juga mengimbau agar warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang yang berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk. (Stefani Yulindriani)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja menambah sembilan trash barrier di empat sungai untuk menahan sampah dan menjaga kebersihan aliran sungai.
Arema FC memburu kemenangan atas PSIM Jogja pada laga terakhir Super League 2025/2026 demi memperbaiki posisi klasemen.
MotoGP Catalunya 2026 diwarnai penalti tekanan ban yang membuat Joan Mir kehilangan podium dan mengubah klasemen sementara.
Pemkot Jogja mulai menyiapkan guru dan menggandeng kampus menyambut kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD mulai 2027.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.
Komnas HAM mendorong pengusutan tuntas kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha Jogja. Polisi buka peluang tersangka bertambah.