Parkir Lapangan Pemda Sleman Kini Berbayar, Akses Publik Disorot
Parkir berbayar di Lapangan Pemda Sleman dikritik karena dinilai membatasi akses ruang publik. Warga meminta fasilitas publik tetap mudah diakses.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN--Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman menyampaikan dialog kebudayaan di kapanewon-kapanewon yang sempat digelar tahun lalu dihapus untuk keseluruhan pada 2025. Penghapusan ini merupakan imbas dari kebijakan efisiensi Presiden Prabowo.
Kepala Disbud Sleman, Edy Winarya mengatakan anggaran yang Disbud miliki yang biasanya digunakan untuk pembinaan kebudayaan berasal dari Dana Keistimewaan. Sumber dana APBD hanya digunakan untuk operasional kantor dan gaji pegawai.
“Kami juga terkena refokusing 35 persen. Anggaran yang kami punya sekarang sekitar Rp7 miliar dari awal Rp12 miliar. Diskusi kebudayaan yang sempat kami gelar tahun lalu akhirnya dihapus semua untuk 2025,” kata Edy dihubungi, Rabu (12/2/2025).
Bahkan, kata Edy Disbud Sleman hingga saat ini belum boleh menggelar kegiatan apapun yang mana sumber pendanaannya dari Dana Keistimewaan. Menurut dia, ada banyak kegiatan Disbud yang batal selain diskusi kebudayaan.
Hanya, Edy belum tahu jumlah persis atau perkiraan pembatalan kegiatan kebudayaan tersebut. Ihwal pengurangan tenaga honorer tidak ada. “Data kegiatan masih kami finalisasi,” katanya.
BACA JUGA: Ramp On Jalan Masuk Tol Jogja-Solo di Trihanggo Mulai Digarap
Di lain pihak, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman akan mengoptimalkan aplikasi telekonferensi seperti zoom meeting guna menggelar Focus Group Discussion (FGD). Optimalisasi ini merupakan tindak lanjut kebijakan efisiensi oleh Presiden Prabowo.
Sekretaris Disdik Sleman, Sri Adi Marsanto mengatakan FGD yang biasanya digelar langsung tatap muka, akan berganti secara daring/ online menggunaan aplikasi telekonferensi.
“Ada efisiensi soalnya. Pasti FGD tatap muka intensitasnya turun. Tapi jumlah nya berapa secara total dalam setahun ini saya masih belum tahu,” kata Adi.
Adi mengaku penggunaan aplikasi telekonferensi memang dapat menjadi alternatif sebagai pengganti FGD tatap muka. Dengan penggunaan aplikasi tersebut, upaya efisiensi anggaran dapat tercapai. Menurut dia, FGD memang tidak harus selalu tatap muka.
Meski begitu, ada situasi di mana Dinas harus menggelar FGD secara tatap muka. Adi memberi contoh dengan persiapan Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD), pemantauan sarana - prasarana, dan persoalan mengenai siswa dan guru.
Disinggung ihwal pontesi pemangkasan tenaga honorer dan pegawai outsourcing, Adi mengaku tidak ada.
“Tenaga honorer itu nanti mekanisme perubahan statusnya diangkat jadi PPPK [Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja]. Kalau outsourcing di Dinas Pendidikan hanya ada cleaning service atau tenaga kebersihan dan satpam. Kalau dipangkas susah, hanya ada sedikit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Parkir berbayar di Lapangan Pemda Sleman dikritik karena dinilai membatasi akses ruang publik. Warga meminta fasilitas publik tetap mudah diakses.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.
Pengajuan pengunduran diri Dukuh Krapyak Wetan, Bantul, belum memenuhi syarat. Pemkab menyebut hasil klarifikasi tak menemukan unsur tuduhan.
BPS Gunungkidul masih mengolah data Sensus Ekonomi 2026. Sebanyak 1.033 petugas dikerahkan dengan sekitar 385.000 responden sasaran.
Bank Mandiri membayarkan dividen interim Rp6,16 triliun bertepatan HUT ke-28. Total dividen sepanjang kalender 2026 mencapai Rp50,63 triliun.
DPRD Bantul meminta usaha budi daya perikanan memperhatikan pengelolaan limbah agar tidak berdampak pada lingkungan dan warga.