TPR Baron Gunungkidul Resmi Terapkan Pembayaran Full Cashless
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
Aktivitas jual beli durian di Kapanewon Patuk yang menjadi salah satu sentra durian di Kabupaten Gunungkidul. Foto diambil 12 Februari 2025. Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani durian di Gunungkidul mengklaim hasil panen di tahun ini tidak sebaik di 2024. Didugan panen yang kurang baik disebabkan karena terpengaruh cuaca ekstrem.
Ketua Kelompok Tani Kencono Mukti Embung Nglanggeran, Sudiyono mengatakan, sekarang masih masuk musim durian. Pasalnya, masa panen terjadi mulai Desember hingga Maret.
Meski demikian, ia mengakui untuk masa panen kali ini ada penurunan ketimbang panen di tahun sebelumnya. Ia mencontohkan, panen mulai di tahun ini hanya sekitar 60% dari bunga durian berkembang.
BACA JUGA: Pemkab Gunungkidul Siap Data dan Fasilitasi Warga Terdampak PT Sritex
Adapun bunga durian yang 40% gagal menjadi buah. Diduga masalah ini terjadi karena faktor cuaca ekstrem. “Akhir 2024 saat pohon durian berbunga, hujan turun dengan intensitas yang tinggi. Jadi, berpengaruh pada bunga yang tidak mekar sehingga tidak menjadi buah durian karena kebanyakan air,” kata Sudiyono, Selasa (4/3/2025).
Menurut dia, kondisi ini berbeda dengan panen di tahun sebelumnya. Ia mengklaim keberhasilan menjadi buah mencapai 90%, sedangkan yang mati saat berbunga hanya 10%.
“Jadi untuk panen di tahun ini, tidak sebaik di tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Sudiyono menambahkan, untuk durian yang dikembangkan, khususnya petani di Kapanewon Patuk bermacam-macam. Yakni, mulai dari durian lokal jenis Kencono Rukmi hingga varietas unggulan seperti Duri Hitam, Bawor, Musang King hingga Monthong juga tersedia.
“Tapi untuk durian lokal sudah mulai tersisih karena lebih memilih varietas unggulan karena keuntungan yang diperoleh lebih banyak. Sedangkan dari sisi perawatan relative sama,” katanya.
Lurah Nglanggeran, Patuk, Widada mengatakan, daerahnya merupakan salah satu sentra penghasil durian di Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Jenis yang ditanam bervariasi mulai dari varietas lokal semodel Kencono Rukmi hingga yang sedang ngetren saat sekarang, Duri Hitam.
Meski demikian, ia mengakui, untuk jenis lokal Kencono Rukmi mulai tersisih. Hal ini dikarenakan, petani memilih varietas lain yang dinilai lebih prospektif dari sisi bisnis.
“Ada beberapa pohon [Kencono Rukmi] milik petani yang berbuah, tapi tidak banyak. Memang keberadaanya sudah kalah dengan varietas lain,” kata Widada.
Ia menduga, durian jenis Kencono Rukmi kurang dilirik petani karena harga jual yang rendah. Widada menuturkan, untuk jenis lain seperti Duri Hitam per kilonya bisa dihargai Rp350.000.
Hal yang sama untuk jenis Bawor bisa lebih dari Rp100.000 per kilogram. Sedangkan Kencono Rukmi dijual per buah dengan harga ditentukan dengan ukuran besar atau kecil.
“Inilah yang menjadi salah satu alasan petani memilih membudidayakan durian varietas unggul, ketimbang yang lokal asli Gunungkidul,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TPR Baron Gunungkidul resmi menerapkan pembayaran full cashless. Sistem non tunai akan dievaluasi sebelum diterapkan di TPR lain.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.