Dari Pupuk hingga Nelayan, Relawan Anggota DPR Totok Daryanto Serap Keluhan Warga
Totok Daryanto mengukuhkan hampir 1.000 relawan di Kulonprogo untuk menyerap aspirasi warga dan mengawal persoalan masyarakat hingga DPR RI.
Foto ilustrasi judi online - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo masih memantau perkembangan siswa yang tersandung judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol).
Hingga saat ini siswa SMP di Kapanewon Kokap itu belum kembali masuk ke sekolahnya atau masih belajar dari rumahnya. Secara bertahap akan diupayakan kembali melakukan kegiatan belajar dan mengajar di sekolahnya seperti biasanya.
Sekretaris Disdikpora Kulonprogo, Nur Hadiyanto mengungkapkan, aktivitasnya pun dipantau agar tidak kembali bermain Judol. Namun, dia menyayangkan sampai sekarang siswa tersebut enggan menandatangani surat pernyataan.
"Kami minta untuk menandatangani surat pernyataan untuk tidak judol lagi, dulu akan dibuatkan pihak sekolah tapi kami belum menerima dokumennya," ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (10/11/2025).
"Keterangan dari sekolah, sudah disiapkan draftnya tapi siswa yang bersangkutan belum mau tanda tangan," kata pria yang akrab disapa Nurhady ini.
Padahal, surat pernyataan itu dirasa penting sebagai wujud komitmen siswa agar tidak lagi berkecimpung di Judol. Sampai sekarang masih diupayakan agar siswa ini berkenan menandatanganinya. Nurhady mengaku, ada satu konsekuensi yang bikin siswa tersebut enggan menandatangani surat pernyataan.
"Di suratnya itu ada konsekuensi, bila melanggar akan dikirim ke Balai Rehabilitasi Remaja Dinsos DIY. Ini yang jadi bagian negosiasi," ucapnya.
Menurutnya, konsekuensi itulah yang bikin anak tersandung Judol ini enggan menandatangani surat pernyataan. Saat ini siswa tetap kooperatif belajar dari rumah. Setiap tugas yang diberikan dijalankan dengan baik tetapi belum bisa masuk sekolah dalam waktu dekat ini. "Dari dinas minta tetap diupayakan secara bertahap bisa masuk ke sekolah lagi," ujarnya.
Pemantauan terhadap siswa ini dilakukan melalui orang tuanya agar tidak bermain Judol lagi. "Bulan pertama mungkin satu minggu sekali, bulan kedua satu minggu dua kali dan seterusnya sampai full masuk sekolah," ujarnya.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Pengarusutamaan Gender dan Peningkatan Kualitas Hidup Anak Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulon Progo, Siti Sholikhah menambahkan, secara umum instansinya sudah melakukan pendampingan psikologis dari Puspaga Binangun.
Psikolog klinis sudah turun untuk melakukan pendampingan. Tidak hanya kepada siswa yang tersandung Judol ini, tetapi juga terhadap orang tua siswa dan sekolahnya. Menurutnya, anak tersandung Judol ini butuh dukungan dari lingkungan dan keluarganya agar kondisi psikologisnya bisa pulih.
"Puspaga binangun selalu melakukan koordinasi dengan pihak sekolah. Anak itu masih butuh pendampingan lebih lanjut karena masih berproses," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Totok Daryanto mengukuhkan hampir 1.000 relawan di Kulonprogo untuk menyerap aspirasi warga dan mengawal persoalan masyarakat hingga DPR RI.
Yamaha MT-125 model 2027 mendapat desain baru, jok revisi, dan layar TFT 5 inci. Apakah pembaruan ini menjadi petunjuk untuk MT-15?
Gen Z dan milenial punya kebiasaan finansial berbeda, mulai dari belanja impulsif hingga pilihan tempat tinggal. Simak lima perbedaannya.
Airbnb membatasi tugas kebersihan yang boleh diminta host kepada tamu mulai 20 November 2026. Simak aturan baru dan pengecualiannya.
HP Android sulit bertahan hingga 10 tahun karena baterai, performa, dan pembaruan keamanan. Simak kapan harus servis atau ganti ponsel.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan peringatan Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan ulama dan santri