Kasus Baru HIV di Kota Jogja Turun, Ada Temuan 41 Kasus hingga Juni 2026
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Penurunan omzet dialami sejumlah pedagang kuliner di Pasar Sentul, Kota Jogja, dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu membuat pedagang meminta Pemkot Jogja menunda penerapan tarif normal sewa lapak pada 2026.
Pedagang rujak es krim Pak Sony, Sri Rahayu, mengungkapkan penjualan kini hanya berkisar tiga hingga lima porsi per hari. Angka tersebut jauh menurun dibanding saat masih berjualan di kawasan Alun-Alun Sewandanan yang mampu menjual puluhan porsi setiap harinya.
Akibat penurunan pembeli, pendapatan harian pun ikut tergerus hingga di bawah Rp100.000. Dengan rencana kenaikan sewa lapak menjadi Rp700.000 per bulan, Sri mengaku khawatir tidak mampu bertahan karena penghasilan dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional.
“Ramainya cuma di awal pembukaan [Pasar Sentul] saja. Setelah itu paling hanya beberapa pembeli,” katanya, Selasa (6/1/2026).
Dia menuturkan rata-rata penjualan mencapai tiga hingga lima porsi rujak es krim dalam sehari. Padahal sebelumnya, saat pedagang masih berjualan di Alun-Alun Sewandanan, penjualannya dapat mencapai puluhan porsi dalam sehari.
Penurunan penjualan tersebut menurutnya membuat pendapatannya juga menurun. Dulu omset yang didapatnya mampu mencapai lebih dari Rp100.000 per hari, dengan harga jual rujak es krim mencapai Rp10.000 per porsi. Sementara itu, kini pendapatannya dibawah Rp100.000 per hari.
Penurunan penjualan tersebut menurutnya membuatnya kesulitan membayar biaya sewa lapak yang rencananya akan naik tahun ini.
Pemkot Jogja berencana menaikkan biaya sewa tahun ini. Sebelumnya biaya sewa lapak di sana mendapatkan subsidi dari Pemkot Jogja. Dengan subsidi tersebut setiap lapak dikenakan biaya sewa Rp695.000 untuk empat bulan pemakaian. Sementara itu tahun ini, Pemkot Jogja berencana menaikkan biaya sewa menjadi Rp700.000 per bulan.
“Tahun ini katanya tarif kembali normal. Kalau memang begitu, saya mantap cabut karena nanti malah nombok,” ujarnya.
Adapun penjaga gerai Siomay Pak Tugiyat, Anik mengeluhkan hal serupa. Dia pun berharap Pemkot Jogja tidak jadi menerapkan tarif normal sewa lapak di sana.
“Aspirasinya [penerapan tarif normal sewa lapak] sudah disampaikan lewat dinas [Dinas Perdagangan Kota Jogja, dewan, dan langsung ke kepala daerah, tapi kondisinya masih seperti ini," katanya.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo menuturkan pihaknya telah mengetahui kondisi. Dia pun mengaku telah menampung harapan para pedagang dan akan menyampaikan harapan pedagang ke pemangku kepentingan.
“Nanti akan kami bantu sampaikan,” katanya. Pedagang berharap Pemkot Jogja mempertimbangkan kondisi lapangan sebelum memberlakukan tarif sewa normal tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
DPRD DIY menyoroti titik rawan kecelakaan di JJLS dan mengusulkan pemasangan pagar pengaman serta PJU secara bertahap.
Pakar UMY menyoroti risiko fiskal pengelolaan utang Whoosh, termasuk tenor 80 tahun dan potensi tekanan terhadap ruang anggaran publik.
Cara cek pre-order iPhone 18 Pro di iBox, Digimap, dan Erafone, termasuk voucher, pilihan warna, kapasitas, serta perkiraan harga global.
WNA China berinisial HW ditolak masuk Soetta meski visa masih berlaku setelah ada atensi terkait dugaan pencurian barang penumpang di pesawat Starlux.
Budidaya nangka di Gunungkidul bakal terus diperkuat untuk memenuhi pembuatan gudeg yang jadi makanan khas di DIY karena masih banyak datangkan dari luar daerah