40 Ribu Lebih Kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul Aktif Lagi
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Proses peninjauan lapangan terkait dengan perkembangan pembangunan konservasi burung yang berlokasi di Kalurahan Giritirto, Purwosari, Gunungkidul/Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul masih membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp25 miliar agar pembangunan kandang konservasi burung di Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, bisa beroperasi. Proyek berbasis konservasi lingkungan ini ditargetkan paling cepat selesai dan berfungsi penuh pada 2029.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul Hana Kadaton Adinoto menyampaikan, pembangunan kandang konservasi burung tetap dilanjutkan pada 2026. Dalam Rencana Kegiatan Anggaran (RKA) 2026, proyek tersebut kembali mendapatkan dukungan Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp3 miliar.
“Pagu ini dipergunakan membangun klinik satwa dan gedung pengelola,” kata Adinoto, Senin (9/2/2026).
Meski pembangunan terus berjalan, Adinoto menegaskan fasilitas konservasi burung tersebut belum bisa dioperasikan. Berdasarkan hasil kajian, total kebutuhan anggaran agar lokasi penangkaran dapat berfungsi optimal mencapai sekitar Rp40 miliar.
Ia menjelaskan, operasional kawasan konservasi tidak hanya membutuhkan kandang burung dan klinik perawatan satwa, tetapi juga fasilitas pendukung lain. Fasilitas tersebut meliputi area parkir, perpustakaan, coffee shop, amphitheater, jalur pedestrian, hingga instalasi jaringan listrik.
Hingga 2026, total anggaran yang telah dialokasikan mulai dari pengadaan lahan hingga tahapan pembangunan yang direncanakan tahun ini mencapai sekitar Rp15 miliar. Dengan demikian, masih diperlukan tambahan anggaran kurang lebih Rp25 miliar agar kawasan tersebut benar-benar siap digunakan.
“Kalau berdasarkan perencanaan kami, maka paling cepat selesainya di 2029,” katanya.
Adinoto menambahkan, progres pembangunan kandang konservasi burung di Purwosari juga sangat bergantung pada kebijakan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasalnya, pembiayaan proyek ini sepenuhnya didukung melalui Dana Keistimewaan.
“Memang bertahap prosesnya dan harapannya bisa sesuai dengan rencana sehingga dapat selesai tepat waktu,” katanya.
Sementara itu, Lurah Giritirto Hariyono menyambut positif rencana pembangunan kandang aviary di wilayahnya. Ia menilai proyek konservasi burung tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong pembangunan kawasan dan perekonomian warga.
“Kami menyambut baik karena nantinya bisa menjadi motor penggerak roda perekonomiaan masyarakat. Jadi, kami sangat antusias dengan lokasi penangkaran burung yang digagas oleh pemerintah,” katanya.
Ia berharap pembangunan kandang konservasi burung di Kalurahan Giritirto dapat segera direalisasikan dan selesai sesuai rencana. Menurutnya, kawasan tersebut berpeluang menjadi daya tarik wisata baru yang melengkapi objek wisata yang telah ada.
“Nantinya bisa melengkapi objek wisata di tempat kami yang lebih dulu ada seperti Goa Cerme,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.