Remaja Putri Gunungkidul Jadi Fokus Pencegahan Stunting dan Anemia
Dinkes Gunungkidul gencarkan Aksi Bergizi di sekolah untuk cegah anemia dan stunting pada remaja putri.
Ibu korban berinisial TKS sempat terlihat masuk ke mobil diapit dua petugas, Rabu (3/6/2026). Yosef Leon/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL — Warga Dusun Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul digegerkan oleh temuan seorang balita perempuan berusia tiga tahun dalam kondisi mengenaskan di dalam kamar kontrakan, Senin (1/6/2026) malam. Korban ditemukan dalam keadaan mulut dilakban serta tangan dan kaki terikat.
Peristiwa ini terungkap setelah warga curiga mendengar tangisan anak kecil yang tak kunjung berhenti sejak waktu magrib. Rasa curiga itu mendorong tetangga bersama pemilik kontrakan untuk memeriksa kondisi di dalam kamar yang ditempati korban bersama ibunya.
Kepala Seksi Humas Polres Bantul, Rita Hidayanto, menjelaskan bahwa kejadian diketahui sekitar pukul 20.50 WIB. Karena tidak ada respons saat dipanggil, warga akhirnya berinisiatif membuka akses jendela untuk melihat ke dalam.
“Korban ditemukan dalam kondisi lemas, mulut tertutup lakban, tangan dan kaki terikat,” jelasnya, Rabu (3/6/2026).
Dari keterangan saksi, ibu korban berinisial TKS sempat terlihat keluar rumah sekitar pukul 17.00 WIB seorang diri, lalu kembali satu jam kemudian. Namun, setelah itu, tangisan anak terus terdengar hingga malam tanpa adanya respons dari dalam rumah.
Setelah menemukan kondisi balita tersebut, warga langsung melaporkan kejadian ke aparat setempat. Petugas dari Polsek Pleret segera datang untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi korban.
Kasus ini kini ditangani sebagai dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Polisi telah meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk ibu kandung korban yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
Saat kejadian, ayah korban diketahui sedang bekerja di Jakarta. Setelah ditemukan, korban langsung mendapatkan penanganan dan kini berada dalam pengawasan keluarga dari pihak ayah.
Polisi juga masih mendalami motif di balik kejadian ini. Informasi sementara yang beredar menyebutkan bahwa ibu korban diduga mengalami depresi dan gejala baby blues karena tinggal sendiri tanpa pendamping.
Ketua RT setempat, Saiful, mengatakan keluarga tersebut memang jarang berinteraksi dengan warga sekitar sejak tinggal di lokasi pada 2023.
“Warga tidak terlalu mengetahui kondisi keluarga itu karena jarang bersosialisasi,” ujarnya.
Pada Rabu (3/6/2026), aparat kembali mendatangi lokasi untuk mengumpulkan keterangan tambahan. Ibu korban saat ini telah diamankan di Polsek Pleret untuk pemeriksaan lebih lanjut sekaligus mendapatkan penanganan medis jika diperlukan.
Sementara itu, balita tersebut kini telah dibawa ke wilayah Gunungkidul oleh keluarga ayahnya guna mendapatkan perawatan lanjutan, baik secara fisik maupun psikologis.
Kasus ini menjadi perhatian serius aparat kepolisian dan masyarakat, mengingat korban masih berusia sangat muda. Penyelidikan terus dilakukan untuk mengungkap secara utuh kronologi serta latar belakang peristiwa yang memicu kejadian memilukan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Gunungkidul gencarkan Aksi Bergizi di sekolah untuk cegah anemia dan stunting pada remaja putri.
Fenomena api misterius di Seyegan Sleman sudah muncul 87 kali dalam 12 hari. Api membakar perabot hingga mulai merembet ke area lain.
Pembangunan Taman Budaya Bantul didanai melalui Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan alokasi anggaran sebesar Rp19,8 miliar
Petugas haji 2027 wajib ikut diklat barak. Pemerintah juga bentuk Daker Armuzna demi pelayanan dan keselamatan jamaah.
Desakan suporter PSIM menguat, namun renovasi Mandala Krida masih terkendala uji tanah standar FIFA dan proses regulasi.
Kejagung geledah kantor BGN di Jakarta usai pergantian pimpinan. Akses diperketat, penyidik Jampidsus turun tangan.