Petani Salak di Sleman Tingkatkan Ekspor

24 Juni 2013 05:45 WIB Sleman Share :

[caption id="attachment_419005" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=419005" rel="attachment wp-att-419005">http://images.harianjogja.com/2013/06/salak-antara.jpg" alt="" width="370" height="232" /> Foto Ilustrasi
JIBI/Harian Jogja/Antara[/caption]

SLEMAN-Petani salak di wilayah Sleman terus ingin meningkatkan produksinya guna memenuhi kebutuhan ekspor di beberapa negara. Pasalnya salak pondoh super dari Sleman ini memang banyak diburu para eksportir.

Salah satu petani salak Tempel, Jayanti mengatakan jika pihaknya tidak hanya menjual salak kebutuhan lokal saja. Pasalnya kini kebutuhan ekspor dengan jenis salak pondoh super sudah mulai banyak yang melirik.

"Saya sendiri kini malah kembangkan dan menambah lahan untuk menanam salak pondoh super ini. Banyak yang memburu untuk diekspor. Soal harga jelas lebih menguntungkan," kata Jayanti di Kebunnya, Sabtu (22/6/2013).

Jayanti menambahkan, pasalnya untuk salak pondoh super ini sangat diminati di China dan Singapura. Keuntungan yang diperoleh juga bisa lebih banyak karena harga salak pondoh super ini lebih stabil dibandingkan dengan salak jenis lain.

"Kalau jenis lain naik turunnya cepat, kalau harga salak pondoh super sangat stabil. Per kilogramnya bisa terjual Rp8.500 untuk pembelian lebih dari satu kwintal. Kalau beli sedikit, harga jelas lebih tinggi lagi," jelas Jayanti.

Di sisi lain, dalam kurun dua tahun terakhir, angka pasokan salak Sleman ke mancanegara menunjukkan tren positif. Sepanjang 2012, sebanyak dua persen dari total produksi salak di Sleman dikirim ke China dan Singapura.

Kabag Humas Setda Sleman, Endah Sri Widiastuti mengatakan tahun 2012 petani salak di Sleman mampu mengekspor 320,79 ton salak ke dua China dan Singapura. Sedangkan 2013 ini sampai dengan Mei, nilai ekspor hampir 200 ton.

"Meskipun demikian, untuk pasar domestik, produsen asal Sleman mampu memenuhi 68 persen kebutuhan di Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Adapun pangsa lokal, pemenuhan sejumkah 30 persen," kata Endah.

Menurut Endah, varietas yang diminati konsumen tidak hanya pondoh tapi juga salak gading dan madu. Produksi dua macam salak itu pun relatif tinggi. Tahun lalu, jumlahnya 2.653 kuintal salak gading, dan 2.910 kuintal salak madu.

"Budidaya salak akan terus dikembangkan. Apalagi salak pondoh sudah menjadi ikon daerah sehingga harus mampu memberikan kesejahteraan bagi petani," ujarnya.

Salah satu upaya yang ditempuh Pemkab Sleman adalah memperbaiki sistem budidaya tanaman yang baik (GAP), dan standar prosedur operasional. Melalui metode tersebut, kontinuitas produksi dan stabilitas harga dapat terjaga.

Saat ini di Sleman terdapat 23 kelompok petani melakukan registrasi kebun salak. Total luasannya 313 hektar, 537.388 rumpun, dan 1.090 kebun. Adapun sertifikasi yang terdaftar antara lain kategori prima 3 bagi 17 kelompok, organik 2 kelompok, dan Global GAP masih dalam proses. (JON)