SEJARAH 3 KRATON MATARAM : Dari Bawah Beringin Kotagede, Mataram Lahir

Masjid Kotagede, peninggalan Kraton Kotagede (JIBI/Harian Jogja - Switzy Sabandar)
12 Mei 2015 16:26 WIB Jogja Share :

Sejarah 3 Kraton Mataram juga memiliki kisah di Kotagede.

Harianjogja.com, JOGJA-Kraton Kotagede merupakan bagian Kerajaan Mataram Islam yang memiliki sejarah panjang dan pengaruh hingga berabad-abad kemudian. Bahkan keberadaannya masih melekat dalam kehidupan masyarakat Jogja masa kini.

Kemunculan Kraton Kotagede berawal dari tanah perdikan di Mentaok (Mataram) yang diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan oleh Sultan Hadiwijoyo, Sultan Pajang. Tanah perdikan atau sima merupakan sebidang tanah yang diberikan kepada orang yang berjasa kepada raja yang berkuasa. Ketika itu Ki Ageng Pamanahan berhasil menumpas Arya Penangsang, yang sebelumnya membunuh Sunan Prawoto, penguasa terakhir Kerajaan Demak pada 1549.

“Kerajaan Mataram Islam yang berlokasi di Kotagede muncul seiring dengan runtuhnya Kerajaan Pajang,” tutur Johannes Marbun, budayawan dari Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) kepada Harianjogja.com, Sabtu (9/5/2015).

Panembahan Senopati, putra dari Ki Ageng Pamanahan, membangun peradaban di atas tanah perdikan seluas 200 hektare pada 1577. Dikisahkan, ketika tiba di kawasan ini yang dicari pertama oleh Ki Ageng Pemanahan adalah sebuah pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo. Dan akhirnya pohon itu ditemukan. Dan akhirnya didirikanlah rumah di sebelah selatan beringin untuk Ki Ageng Pemanahan. Dan bangunan inilah yang kemudian dikembangkan hingga akhirnya menjadi Kraton Kota Gede.

Tidak hanya pusat ekonomi masyarakat berupa Pasar Kotagede, institusi yang dibangun juga berwujud lembaga keagamaan yang hingga saat ini masih dapat dilihat dalam bentuk Masjid Agung Kotagede. Pemilik nama kecil Raden Mas Danang Sutowijoyo itu pun menjadi Raja I Kerajaan Mataram Islam.

Kraton ini memiliki struktur tata kota gabungan Hindu dan Islam. Bentuk bangunan dan gapura jelas terilihat merupakan ciri Hindu. Tetapi seperti halnya Demak dan Pajang, masjid menjadi bagian penting dari Kraton.

Sejumlah peninggalan bersejarah juga masih terlihat jelas. Salah satunya Watu Gilang yang berada di dekat Makam Hastorenggo. Konon, batu ini digunakan untuk membenturkan kepala Ki Ageng Mangir, sosok yang tidak mau mengakui Mataram namun akhirnya menjadi menantu Senopati.

Panembahan Senopati menjebak Ki Ageng Mangir dengan menggunakan Pembayun, putrinya yang menyamar sebagai penari ledhek. Mangir pun jatuh cinta dan menikahi penari itu dan baru tahu setelahnya bahwa dia putri Senopati. Mau tidak mau akhirnya Mangir pun menghadap mertuanya.. Saat menghadap Panembahan Senopati itulah kepalanya dibenturkan hingga mati. Separuh tubuhnya dimakamkan di dalam kompleks istana, sedangnya lainnya di luar kompleks. Hal ini sebagai simbol keluarga atau menantu raja sekaligus musuh karena memberontak.

Johannes menyayangkan pelestarian warisan budaya hanya sebatas memelihara benda bersejarah tanpa diikuti pemeliharaan nilai-nilainya.

“Persoalannya, tidak semua orang tahu nilai sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya dan ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah,” terangnya.

Yang pasti, dari sebuah bangunan kecil di bawah beringin Kotagede, Mataram lahir. Berkembang menjadi salah satu kekuatan besar di Jawa.