PASAR TRADISIONAL : Hasil Jajak Pendapat, Sebagian Besar Pedagang Pasar Tolak Revitalisasi

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoRibuan warga masyaralat tumpah ruah memadati kios penjualan baju di pasar Beringharjo, Jogja, Minggu (12 - 8). Hari Minggu terakhir jelang perayaan Lebaran dimanfaatkan warga untuk berbelanja kebutuhan Lebaran seprti baju dan sembako, keterbatasan lahan parkir dan bermunculanya parkir liar di jalan tersebut memperburuk kemacetan di kawasan pasar tradisional tersebut. Warga yang hendak berbelanja di kawasan Malioboro sebaiknya tidak menggunakan kendaraan roda empat untuk mengur
11 Februari 2016 14:55 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pasar tradisional di Jogja terus dilakukan perbaikan, namun upaya ini sering menghadapi penolakan dari pedagang

Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah Kota Jogja baru merevitalisasi empat pasar tradisional dari 31 pasar tradisional di Kota Jogja. Soal anggaran dan kondisi sosial pedagang menjadi alasan pasar tradisional lambat direvitalisasi. Bahkan tahun ini, pemerintah kota tidak menganggarkan program revitalisasi pasar tradisional.

Kepala Bidang Pengembangan, Dinas Pengelolaan Pasar Kota Jogja, Rudi Firdaus Yusuf mengungkapkan keempat pasar tradisional yang sudah selesai direnovasi, yakni Pasar Pasar Kranggan Jetis, Pasar Karangwaru Tegalrejo, Pasar Telo Mergangsan, Pasar Talok Gondokusuman, dan sebagian Pasar Giwangan. “Lainnya banyak yang belum, masih menunggu giliran,” kata Rudi saat ditemui di kantornya, Rabu (10/2/2016)

Menurut Rudi dalam merevitalisasi pasar tradisional tidak hanya persoalan merubah bangunan, namun juga kondisi sosial pedagang dan masyarakat sekitar pasar. Hasil penjajakan pendapat para pedagang sebelum melakukan revitalisasi, menurutnya, sebagian besar pedagang menolak direnovasi dengan alasan tidak ingin repot dan tidak ada jaminan dagangan akan lebih laku setelah direvitalisasi.

Rudi mengakui pasar yang direnovasi akan merubah zonasi, namun ia memastikan tidak ada perubahan luas lahan berkurang atau ada penambahan pedagang, kecuali soal zona. Misalnya, kios daging berdampingan dengan kioas pakaian. Kondisi tersebut diakui Rudi juga banyak di Pasar Bringharjo, yang merupakan ikon pasar Tradisional Jogja.

Padahal pengaturan zonasi penting untuk memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun pembeli. “Pasar Beringharjo pola zoning-nya masih kacau, pedagang buah, tas dan kerajinan menjadi satu zona,” ujarnya.

Rudi mengatakan saat ini Dinas Pengelolaan Pasar intens berkomunikasi dengan pedagang pasar tradisional terkait rencana revitalisasi. Pihaknya juga telah memberikan pengertian bahwa persoalan kebocoran atap pasar, banjir, saluran mampet, yang selama ini sering terjadi di pasar tradisional, tidak akan pernah selesai jika hanya direnovasi, karena kondisi pasar yang sudah lama. Menurutnya, sebagian besar pasar tradisional dibangun pada era 1970-1980.

Hasil pendataan Dinas Pengelolaan Pasar Kota Jogja, ada lima pasar yang akan direnovasi ringan karena talang bocor dan saluran air pembuangan limbah yang mampet. Kelima pasar tersebut adalah Pasar Sentul, Pasar Beringharjo, Pasar Prawirotaman, Pasar Kotagede, dan Pasar Terban.

Rudi menambahkan, kendala lainnya dalam merevitalisasi pasar adalah penyiapan lahan sementara bagi pedagang yang kiosnya direvitalisasi. Pemerintah Kota Jogja tidak mungkin menanggung beban pedagang yang jumlahnya banyak jika tidak menyiapkan lahan jualan sementara selama proses revitalisasi pasar. Sementara soal anggaran, Rudi mengaku mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementrian Perdagangan.