BANDARA KULONPROGO : Penggarap PAG Nantikan Kejelasan Kompensasi

12 Februari 2016 07:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Bandara Kulonprogo diharapkan juga mempertimbangkan pengguna PAG.

Harianjogja.com,KULONPROGO -Para penggarap Pakualaman Ground (PAG) berharap kejelasan sikap dari Kadipaten Pakualaman terkait kompensasi lahan calon lokasi bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Mereka tidak ingin digusur begitu saja dan merasa berhak diperhatikan nasibnya karena telah bersikap mendukung bandara.

PAG yang terletak di wilayah Pantai Glagah, Kecamatan Temon, telah dimanfaatkan para penggarap selama puluhan tahun, baik untuk pertanian, rumah makan, tambak, hingga penginapan dan hotel. Ketika lahan tersebut digunakan sebagai lokasi pembangunan bandara dan tidak ada ganti rugi apapun yang mereka terima, para penggarap PAG tidak tahu harus bekerja apa.

Salah satu penggarap PAG, Sukarno mengaku dia dan warga lain tidak menuntut besaran kompensasi karena mereka menyadari jika lahan yang digarap dalah milik Kadipaten Pakualaman. Meski demikian, warga juga tidak ingin jika kompensasinya nihil sama sekali.

“Penggarap PAG itu mendukung bandara. Kami hanya ingin ada kompensasi dan akan terus berusaha,” kata Sukarno di Balai Desa Glagah, Temon, Kulonprogo, Kamis (11/2/2016).

Penggarap PAG lainnya, Trisno Sumarto mengungkapkan, warga memang tidak pernah diperintahkan menyetorkan upeti maupun bagi hasil usaha. Menurut dia, warga hanya diminta menjaga dan memanfaatkannya.

“Tidak pernah ada permintaan upeti, hanya diminta merawat dengan baik,” ucap Trisno.

Trisno sudah bertahun-tahun membuka warung di PAG yang ada di Pantai Glagah. Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan pihak Kadipaten Pakualaman sebelum kemudian meratakan tanah dengan menyewa alat berat. Ketika mengetahui lahan itu akan dipakai untuk lokasi pembangunan bandara, dia pun bersedia mengikuti prosedur yang ada dan mempersilakan tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pengukuran dan pendataan. Itulah mengapa dia merasa kaget dan bingung ketika lahan garapannya tidak dalam dalam hasil pengukuran dan pendataan yang diumumkan.

Begitu pula dengan Tamtama, penggarap PAG lain yang mengembangkan usaha penginapan dan hotel. Dia mengaku lahannya sudah diukur dan didata, termasuk bangunan dua lantai yang berdiri di atasnya.

“Harapan saya nanti ada kompensasi dari PA [Pakualaman], termasuk bangunan dan lainnya juga ada perhitungan sendiri,” ungkap Tamtama.

Pendukung Dapat Berbalik
Sementara itu, Kepala Desa Glagah Kecamatan Temon, Agus Parmono kembali menyatakan kekhawatirannya terkait nasib penggarap PAG. Jika tidak ada kompensasi, menurutnya warga bisa saja berbalik arah menolak bandara.

“Padahal selama ini mereka mendukung bandara dan sikap kooperatif tersebut juga berperan dalam upaya penerbitan IPL [Izin Penetapan Lokasi],” ujar Agus.