PENELITIAN TERBARU : E-Nose Alat Pendeteksi Serba Bisa

Kuwat Triyana (tengah) saat memamerkan E-Nose kepada wartawan, Sabtu (20/2/2016) di UC UGM. (Abdul Hamied Razak/JIBI - Harian Jogja)
24 Februari 2016 00:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Penelitian terbaru berikut dari FMIPA UGM.

Harianjogja.com, SLEMAN-Kecepatan informasi dan akurasi untuk mendeteksi zat-zat tertentu dilakukan oleh electronic nose atau hidung elektronik ini. Mulai kandungan bahan berbahaya pada makanan seperti borax dan formalin. Alat ini mendeteksi sejumlah penyakit, menganalisa tes urine dan kebutuhan lainnya.

Electronic nose atau E-Nose yang dikembangkan oleh Dosen Fakultas MIPA UGM, Kuwat Triyana bukan hidung biasa. Ia merupakan sebuah alat sensor yang mempunyai kemampuan untuk mendeteksi
sesuatu.

"Asalkan alat ini diajari, dia bisa mendeteksi apa saja. Dalam waktu maksimal dua menit, ia memberi tahu apa yang terjadi," ujar Kuwat saat ditemui di UC UGM, Sabtu (20/2/2016) lalu.

Dia menjelaskan, E-Nose yang dikembangkan meniru cara kerja hidung manusia. Untuk mengenali atau membedakan sebuah sampel dengan sampel lainnya, alat ini harus dilatih lebih dulu. Kuwat mengatakan, latihan itu diberikan agar E-Nose memiliki ingatan pada sampel-sampel yang diberikan.

E-Nose sendiri, katanya, memiliki dua generasi. Generasi pertama, peralatannya lebih kompleks dan lebih besar dibandingkan generasi kedua. E-Nose generasi pertama menggunakan kotak berlapis kaca pada semua sisinya. Pada alat ini, sampel diambil kemudian diletakkan dalam kotak kaca. Kebetulan Kuwat saat itu mengambil sebuah sampel daging ikan.

"Saya tidak tahu, apakah daging ikan ini mengandung borax atau tidak," ujar Kuwat seraya meletakkan sampel itu ke dalam kotak kaca, lalu menutupnya.

Sensor pada E-Nose tersebut kemudian membaca hasil sampel. Tinggal melihat pada sebuah laptop, tidak sampai semenit terbaca di monitor daging ikan tersebut mengandung borax.

"Untuk mendapatkan aroma, bahannya dipanaskan dalam sebuah kotak kaca. Aroma gas yang keluar akan dideteksi oleh sendor, lalu dianalisis lewat software khusus,” katanya.

Berbeda dengan generasi pertama, E-Nose generasi kedua peralatannya lebih canggih dan simple. Jika generasi pertama sampel diletakkan dalam kotak kaca, pada generasi kedua sample diletakkan dalam sebuah tabung khusus. Sementara, cara kerja aroma gas hampir mirip dengan generasi pertama.

"Cuma, untuk melihat hasilnya, bisa menggunakan Polsel. Pada E-Nose generasi kedua ini saya selipkan bluetooth untuk mengirim hasil analisisnya," tandas dosen Prodi Fisika UGM itu.

Kuwat menjelaskan, penelitian E-Nose dilakukan sejak 2000 lalu atau 15 tahun lalu. Selama itu, E-Nose terlatih membedakan daging babi atau bukan. Bahkan ia juga digunakan untuk menentukan birahi dan tidaknya sapi betina. E-nose juga bisa digunakan untuk mendeteksi cepat kontaminasi zat berbahaya seperti formalin dalam makanan, masa kadaluarsa produk makanan, dan kehalalan makanan. Saat ini juga sedang dikembangkan enose untuk deteksi cepat tuberculosis (TBC).

“Cara kerja alat ini sangat cepat maksimal lima menit. Kami akan kembangkan dalam satu menit sampel bisa diketahui hasil akhirnya,” tuturnya.

Kecepatan dan akurasi dari hasil E-Nose ini, kata Kuwat, sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi, saat ini Indonesia menjalani era perdagangan bebas atau masyarakat ekonomi Asean (MEA). Artinya, kecepatan prosedur sangat dibutuhkan untuk instansi bea dan cukai saat memeriksa sample. Atau bagi instansi lainnya yang membutuhkan prosedur cepat.

"Kalau melalui uji laboratorium, hasilnya bisa tiga hari diketahui. Kasihan kalau nunggu terlalu lama, padahal semuanya ingin serba cepat," katanya.

Sementara, kemampuan E-Nose untuk mendeteksi penyakit tertentu seperti TBC, dapat dimanfaatkan oleh Puskesmas atau Rumah sakit. Meski begitu alat ini hanya mendeteksi awal orang menjangkit penyakit tertentu atau tidak, dan belum dapat menyajikan data penyakit secara detail. Seperti penyakit kanker sesuai stadiumnya.

"Tidak, ia hanya mendeteksi awal sebuah penyakit. Belum bisa untuk mengetahui stadium atau tingkat penyakitnya," kata Kuwat.

Berapa harga alat tersebut? Jika dikalkulasi, kata Kuwat, harga perunitnya masih sangat tinggi. Rp100 juta. Namun jika diproduksi secara massal, harganya bisa jauh lebih murah. Sampai saat ini, Kuwat masih belum berfikir untuk memproduksi secara massal. Sebaliknya, dia ingin terus mengembangkan kemampuan E-Nose agar bisa lebih mumpuni dulu.

"Nanti saja (untuk produksi massal). Kami serahkan juga ke UGM," tuturnya seraya tersenyum.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM Prof. Suratman mengatakan, hasil riset dan inovasi tersebut akan segera dipatenkan untuk menjadi produk bisnis unggulan di tingkat global.

“Paling tidak temuan ini dapat memberikan solusi pada permasalahan bangsa,” katanya. Semoga.