PERTANIAN BANTUL : 2016 Jadi Tahun yang Berat untuk Petani, Ini Kisah Duka Mereka...

Tanaman cabai yang membusuk membuat Sumarwan, salah satu petani asal Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Bambanglipuro terpaksa mencabuti tanaman di lahan miliknya, Sabtu (15/10/2016) sore. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
17 Oktober 2016 14:55 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Pertanian Bantul menghadapi masalah musim yang tidak bersahabat tahun ini

Harianjogja.com, BANTUL- Tahun 2016, tahun sedih bagi petani. Hujan yang seolah tak pernah ada ujungnya membuat tanaman mati. Begitu pun dengan harapan mereka akan panen melimpah di masa panen.

Itulah yang dialami 200-an petani anggota Kelompok Tani Sidomaju, Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Bambanglipuro.

Tubuh gempal Supriyanto berlari. Hujan membuat lengannya yang telanjang tak terutup baju, terlihat basah. Sambil tetap bercanda ia menyapa kawan-kawannya yang sudah lebih dulu berada bersama kami, bercengekrama di teras rumah kediaman dari Zahrowi, yang juga salah satu petani, sama seperti dirinya, Sabtu (15/10/2016) siang.

Warga Dusun Plebengan Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro itu selama ini memang dikenal petani yang giat. Di sela pekerjaannya sebagai karyawan Pabrik Gula (PG) Madukismo, ia selalu memilih menghabiskan waktunya di sawah.

Selain istri dan dua anaknya yang ada di rumah, tanaman cabai yang ia tanam, selama ini memang seolah menjadi pelipur lelahnya sepulang kerja.

Tapi itu dulu. Sekarang, jangankan menghabiskan waktu di sawah, melongok pun ia enggan. “Tambah bikin sedih saja,” katanya sambil sesekali menyeka sisa air hujan di pelipisnya.

Memang, sejak hujan deras yang turun hampir tiap hari selama dua bulan terakhir, praktis tak ada yang bisa diharapkan dari sawah. Tanaman cabai bukanlah padi, yang tahan terhadap air. Kandungan air di tanah yang terlalu banyak akan membuat akar cabai cepat membusuk. Jelas, itu pun akan berdampak pada produksi buahnya.

Padahal, setelah hasil panen yang tak memuaskan di  musim tanam pertama pertengahan 2016 lalu, ia menaruh harapan besar pada musim tanam kedua ini.

Tapi harapan tinggal harapan. Alih-alih bisa meraih sukses guna menutup kerugian saat musim tanam pertama lalu, ia kembali merugi. “Masih mendingan di musim tanam pertama lalu, masih ada panennya. La ini malah sama sekali. Tanaman mati semua," katanya.

Di musim tanam yang lalu, meski lupa persisnya berapa hasil produksinya ketika, ia bisa memastikan hasil produksi tetap tak mampu mengembalikan biaya operasional yang ia keluarkan. Itulah sebabnya, ia lantas berharap banyak di musim tanam kedua.

Bahkan, ia sampai nekat menjual sepeda motornya seharga Rp5,5 juta untuk menutup modal tanam. Untuk memasuki musim tanam, ia memang berupaya sebisa mungkin untuk tidak berhutang.

Selain tak ingin dipusingkan saat mengembalikan uang hutangan, ia pun ingin bisa menjadi petani mandiri dengan memutar sendiri keuangannya tanpa harus melibatkan pihak lain. “Tapi ternyata hasilnya malah tambah buruk. Hilang lah motor saya,” suaranya memelan.

Betapa tidak, dari total luasan lahan yang mencapai hampir 3.000 meter persegi, kerugian yang ia derita bisa mencapai Rp35 juta. Sebuah angka yang cukup fantastis bagi petani kecil macam dia.

Tapi jika dilihat dari jumlah produksinya, kerugian sebesar itu terasa cukup masuk akal. Pasalnya, dari total produksi yang biasanya mencapai 4,5 ton, kali ini tak lebih dari 20 kg saja. “Pokoknya, menurut saya, ini tahun paling buruk,” katanya.