Pameran Jadi Ajang Kebangkitan Seni Rupa Kulonprogo

Sejumlah pengunjung menikmati karya lukisan yang dipajang pada Pameran Seni Visual di Balai Desa Wates, Kulonprogo, Sabtu (22/10/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
23 Oktober 2016 13:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pameran menjadi ajang kebangkitan seni rupa di Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO-Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan Pameran Seni Visual di Balai Desa Wates, Kulonprogo, sejak Jumat (21/10/2016) hingga Kamis (27/10/2016) pekan depan.

Ratusan karya perupa dari seluruh wilayah Kulonprogo yang terpajang diharapkan dapat menandai kebangkitan seni rupa di Kulonprogo.

Kebangkitan seni rupa Kulonprogo memang menjadi tema utama pameran yang diadakan selama sepekan itu. Pengunjung tidak hanya disuguhkan dengan lukisan yang diciptakan dengan berbagai teknik dan media, tetapi juga hasil karya seni kriya dan fotografi.

Pengunjung juga dibebaskan untuk memotret karya dan mengunggahnya ke media sosial. Hal itu malah dianggap ikut mempromosikan seni rupa di Kulonprogo.

Pengunjung pun dapat berbincang langsung dengan perupa jika yang bersangkutan kebetulan sedang ada di lokasi.

“Kami ingin meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni, khususnya generasi muda,” kata Kepala Disbud Kulonprogo, Untung Waluyo, Sabtu (22/10/2016).

Untung mengungkapkan, Pameran Seni Visual merupakan bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun Kulonprogo ke-65 tahun ini. Selain menjadi sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat, acara itu juga sebagai unjuk bakat dan eksistensi oleh para perupa.

Masyarakat pun seharusnya menjadi lebih bangga sebagai warga Kulonprogo setelah mengetahui potensi seni rupa yang berkembang selama ini.

Untung pun berharap pengunjung dapat termotivasi untuk ikut berperan dalam mengembangkan kekayaan seni di Kulonprogo. “Semoga pameran ini bermanfaat dan memberi inspirasi bagi masyarakat Kulonprogo,” ujar dia.

Sementara itu, seorang peserta pameran bernama Teguh Paino berharap pameran bisa dilaksanakan secara berkala agar. Menurutnya, selama ini masih ada anggapan jika seni rupa hanya bisa dinikmati kalangan tertentu di sebuah galeri khusus sehingga terkesan eksklusif.