DEMAM BERDARAH BANTUL : Kasus Meningkat, Menkes Pertimbangkan Vaksin

Menteri Kesehatan Nila Moelok saat melakukan kunjungan melihat persiapan peresmian Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Puskesmas Bangutapan II di Dusun Grojogan, Desa Tamanan, Kecamatan Bangutapan, Bantul. Rabu (26/10/2016) (Irwan A. Syambudi/JIBI - Harian Jogja)
27 Oktober 2016 21:20 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Demam berdarah Bantul jumlah pasien terus naik

Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mencatat adanya peningkatan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada 2016. Sementara itu Pemerintah Pusat masih pertimbangkan untuk pengadaan vaksin DBD demi mengurangi kasus penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Maya Sintowati menyebut adanya kenaikan kasus DBD di Bantul. Menurut dia peningkatan kasus tersebut cukup derastis dari 2015 yang jumlah kasusnya 1.441 kemudian pada tahun 2016 sampai dengan akhir Oktober sudah terdapat 1.739.

“Ini kasusnya meningkat jauh. Tapi jumlah kematianya menurun kalau 2015 ada 14 [meninggal], tahun ini ada 4 [meninggal],” ujar Maya, Rabu (26/10/2016).

Menurut dia faktor yang mengakibatkan meningkatnya jumlah kasus DBD salah satunya adalah kondisi cuaca yang tidak menentu. Tingginya intensitas curah hujan yang hampir  terjadi sepanjang tahun ini ditengarai menjadi penyebab sulitnya memberantas sarang nyamuk BBD.

Selain itu menurut pejabat eselon dua yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, tingginya kasus DBD terjadi merata di hampir seluruh kecamatan di Bantul. Namun kasus tertinggi terjadi di kecamatan yang berbatasan dengan Kota Jogja, seperti Kecamatan Kasihan, Bangutapan, Sewon, dan Kecamatan Bantul. Tingginya kasus DBD di kecamatan tersebut menurut maya lantaran penduduknya banyak dan mobilitasnya tinggi.

Kata Maya untuk sementara ini yang dapat dilakukan demi mengurangi kasus DBD adalah dengan melakukan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Ya PSN, Cuma itu jurus terjitu untuk menangani kasus DBD. Foging juga perlu tapi yang paling penting ya PNS,” jelasnya.
Vaksin DBD
Sementara itu Menteri Kesehatan Nila Moelok mengatakan telah ditemukan vaksin BDB yang dapat digunakan untuk mengurangi tingginya kasus DBD yang selama ini terjadi. Kendati demikian di Indonesia vaksin DBD tersebut masih belum tersedia lantaran pemerintah masih terkendala anggaran biaya yang dibutuhkan.

“Memang sudah ditemukan [vaksin DBD], dan itu telah dikeluarkan oleh Prancis. Kami juga memakai, tetapi harus hitung-hitungan biaya karena itu biayanya kan dari negara juga,” ungkapnya di sela-sela kunjunganya ke Puskesmas Bangutapan II di Dusun Grojogan, Desa Tamanan, Kecamatan Bangutapan, Bantul.

Meski membutuhkan biaya yang besar, kata Nila pengadaan vaksin DBD akan melihat kemungkinan-kemungkinan angaran lain selain dari pos belanja negara. Dia menyebut pemerintah akan berusaha mencari donatur untuk pengadaan vaksin tersebut.

Terkait dengan kejelasan pengadaan vaksin DBD, Menteri yang juga merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini belum dapat memastikan.

“Saya belum bisa jawab, nanti dulu. nanti saya bilang iya malah tahu-tahu tidak bisa,” tandasnya.