Melihat Fasilitas Belajar di Rutan Anak Wonosari, Meja Kursi Masih Pinjam, Guru Kadang Tak Datang

Salah seorang tahanan anak sedang mengerjakan soal ujian nasional tingkat SMP di ruang belajar Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Wonosari, Selasa (2/5/2017). (JIBI - Irwan A. Syambudi)
03 Mei 2017 20:55 WIB Irwan A Syambudi Gunungkidul Share :

Sejumlah fasilitas pendidikan untuk tahanan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Wonosari masih minim

 

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Sejumlah fasilitas pendidikan untuk tahanan anak di http://m.harianjogja.com/?p=740902">Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Wonosari masih minim. Puluhan tahanan anak yang ada di dalam LPKA menggunakan fasilitas belajar seadanya.

Kepala LPKA Rutan Klas II B Wonosari, Sri Lestari mengatakan setelah dibuka dan diresmikan pada 2015 lalu, sejumlah fasilitas untuk anak-anak di dalam LPKA masih minim. Terutama fasilitas yang menunjang untuk kegiatan belajar anak, seperti alat tulis dan buku pelajaran.

Padahal saat ini, di LPKA menampung 30 anak yang semuanya membutuhkan fasilitas belajar. Fasilitas kelas seperti meja dan kursi juga masih kekurangan.

“Ini aja misalnya kursi-kursi ruangan kelas masih minjam. Kalau pas tidak ada kegiatan sekolah atau acara ya kursi-kursinya diambil,”  kata dia, Selasa (2/5/2017).

Untuk itu, Sri berharap kepada Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) sebagai instansi yang menaungi langsung, untuk segera menyediakan fasillitas pendidikan yang memadai. Pasalnya fasilitas pendidikan dinilai mendesak untuk anak-anak.

Selain itu, kini pihaknya sedang berusaha untuk meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul untuk dapat membantu memfasilitasi. “Ya nanti kami akan berusaha untuk bertemu Bupati, siapa tahu Pemkab bisa memfasilitasi meja atau kursi,” ujarnya.

Lanjutnya lagi, saat ini hanya dapat memanfaatkan fasilitas seadanya yang ada di LPKA. “Ya kalau sekarang menggunakan fasilitas seadanya. Kalau ada kegiatan sosial dari mahasiswa biasanya saya mintain buku tulis dan bolpoin yang memang lebih dibutuhkan anak-anak,” kata Sri.

Sementara itu, Kepala Subseksi Pendidikan dan Bimkesmas Anak LPKA Rutan Klas II B Wonosari, Setiyawan Nugroho Endiyanto juga mengakui minimnya fasilitas pendidikan di LPKA. Meski anak binaan di dalam LPKA seluruhnya masih sekolah, namun sulit menemukan buku sekolah di LPKA lantaran minimnya ketersediaan.

Selain masalah ketersediaan buku, selama ini aktivitas belajar pun masih belum konsisten. Pasalnya sejak beberapa waktu lalu, aktifitas sekolah terpaksa tidak dijalankan karena guru sering tidak datang.

"Pengajar belum konsisten. Jadwal belajar yang harusnya setiap Senin dan Kamis belum maksimal, kadang datang kadang tidak," katanya.

Padahal menurut dia semangat belajar anak-anak ini masih tinggi, hal itu terlihat dari setiap kali ada guru yang masuk mereka antusias mengikuti. Dengan belajar mereka merasa dapat melepaskan kepenatan di tengah aktivitas yang terbatas di dalam LPKA.