WISATA JOGJA : Lama Tinggal di Jogja Pendek, Bagaimana Cara Mengakali?

Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
11 Mei 2017 07:22 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Wisata Jogja perlu divariasi untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan

Harianjogja.com, JOGJA -- Jogja menjadi tempat strategis untuk penyelenggaraan pertemuan, baik skala nasional maupun internasional. Kedatangan para peserta meeting membuat tingkat keterisian kamar hotel meningkat meski lama tinggalnya tidak lama.

Staf Ahli Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Hari Untoro Drajat mengatakan, jika dilihat dari aspek okupansi hotel, Jogja termasuk tinggi karena di atas 75% saat liburan. Namun kepadatan itu tidak berlangsung lama seperti di kota wisata Bali.

“Jogja itu padat tapi lenght of stay-nya rendah. NTT lama tinggalnya lebih banyak,” katanya belum lama ini saat mengisi jumpa pers Grand Opening Hotel Grand Mercure.

Hal tersebut menurutnya perlu menjadi perhatian pemerintah untuk bisa meningkatkan potensi yang ada di Jogja, guna menarik wisatawan agar tinggal lebih lama di Jogja.

“Semakin banyak atraksi, experience, maka lama tinggal makin lama,” katanya. Jika lama tinggalnya semakin lama, aspek ekonomi daerah ikut tergerak seperti bisnis kuliner dan cinderamata.

Sementara Ketua Perhimpunan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI) DPD DIY Istidjab Danunagoro mengatakan, objek wisata di Jogja memang belum menjadi daya tarik utama. Selama ini Jogja menarik untuk menjadi tempat pertemuan skala besar. Tidak heran jika saat bulan-bulan tertentu seperti Februari dan Maret, banyak instansi pemerintahan yang menggelar meeting di Jogja.

Ia mengakui, Jogja sering menjadi lokasi Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Hampir semua instansi pemerintahan pernah menggelar pertemuan di kota pelajar ini.

“Tapi meetingnya kan paling cuma dua hari jadi lama tinggalnya juga tidak lama,” katanya.

Kondisi di Jogja menurutnya berbeda jauh dengan Bali. Di Bali, wisatawan bisa menginap sampai empat malam. Menurutnya hal itu karena Bali banyak menyajikan hiburan malam untuk para turis.  Jogja menurutnya bisa mengembangkan hiburan yang lebih banyak, tidak hanya seputar budaya lokal setempat tetapi bisa hiburan yang sesuai selera internasional, seperti pertunjukan jazz dan pertunjukan kontemporer.

“Masalahnya kalau pertunjukan budaya itu yang suka hanya orang Belanda,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang bulan Maret 2017 secara keseluruhan sebesar 1,65 malam. Angka tersebut mengalami penurunan 0,08 malam dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata menginap terlama sebesar 1,81 malam terjadi pada hotel bintang lima dan yang tersingkat selama 1,48 malam terjadi di hotel bintang satu dan hotel bintang dua.