Tempat Pakir Anyar di Sirip Malioboro Dinilai Bakal Pancing Kemacetan

Pelancong menikmati suasana kawasan pedestrian Malioboro, Yogyakarta yang lengang seperti terlihat pada Senin (29/05/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto
09 Mei 2018 08:25 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tempat khusus parkir (TKP) di Jalan Beskalan di sebelah Ramai Mall yang disiapkan sebagai sarana penunjang ketika Malioboro kelak bebas dari kendaraan bermotor, sudah mulai dibangun. Akan tetapi, pembangunan TKP baru dianggap kurang tepat, karena hanya akan memancing kemacetan yang lebih parah.

TKP di Jl Beskalan mulai dibangun pada Senin (7/5) di lahan seluas 1.148,5 meter persegi. Tempat parkir ini ditargetkan rampung pada Desember 2018. TKP ini diproyeksikan bisa menampung 300 motor dan 18 mobil. Bangunannya dibuat tiga lantai selayaknya TKP Abu Bakar Ali. Mobil akan diparkir di lantai paling bawah, sementara motor di lantai dua dan tiga. Pembangunannya menghabiskan dana sebanyak Rp8 miliar.

Kepala Dinas Perhubungan DIY Sigit Sapto Rahardjo mengatakan TKP di Jalan Beskalan perlu dibangun, sebab pada 2019 nanti, Malioboro jadi kawasan pedestrian yang bebas dari kendaraan bermotor. Hanya Trans Jogja dan mobil tamu kehormatan yang boleh lewat. Desain itu membutuhkan tempat parkir anyar untuk menampung kendaraan pengunjung jalan paling populer di Jogja tersebut

“Nanti kan kendaraan hanya boleh parkir di Sirip-sirip Malioboro. Nah, salah satunya di Beskalan. Eks Kampus UPN di dekat Hotel Melia Purosani, juga akan kami bebaskan untuk TKP baru,” ujar Sigit melalui sambungan telepon, Selasa (8/5).

Menurut Sigit, kebijakan Malioboro bebas kendaraan sudah hampir pasti dilakukan pada 2019. Uji coba Malioboro sebagai kawasan pedestrian kemungkinan besar akan mulai dilaksanakan September atau Oktober.

Pemda DIY bekerja sama dengan Pemkot Jogja akan menjajal manajemen lalu lintas ala bundaran besar. Malioboro akan steril dari kendaraan bermotor, dengan lalu lintas kendaraan memutari pusat Kota Pelajar itu. Skema ini akan menjadikan Jl. Mataram dan Jl. Suryotomo satu arah menuju utara. Sebaliknya, Jl. Bhayangkara, yang semula satu arah menuju utara akan diubah menjadi ke arah selatan. “Mungkin buka tutupnya dicoba akhir tahun.”

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Arif Wismadi menyarankan alih-alih membangun TKP baru, sebaiknya Pemda DIY mulai mendorong budaya ride sharing atau berbagi tumpangan dan angkutan umum. Sebab, penambahan tempat parkir hanya akan memicu kemacetan.

“Ketimbang membuat TKP baru, akan lebih efektif mengutamakan fasilitas, kemudahan, dan kenyamanan menurunkan penumpang di titik yang tepat,” ujar dia.

Selain itu, konektivitas tempat parkir dengan lokasi strategis dalam kawasan juga diperlukan. Misalnya menggunakan shuttle bus atau moda angkutan yang lain.

Ia yakin, jika diatur dengan tepat, daya dukung, daya tampung sosial, ekonomi dan budaya Malioboro akan meningkat. “Kendaraan bermotor atau tidak bermotor adalah alat mobilitas, yang harus diatur keberadaannya. Untuk itu pembebasan kawasan dari kendaraan bermotor dapat diberlakukan berdasarkan pengaturan ruang, waktu dan kondisi.”