Ini Alasan Pemkab Gunungkidul Belum Juga Terapkan Darurat Bencana Kekeringan

Ilustrasi kekeringan - REUTERS/Jose Cabezas
05 Agustus 2018 17:20 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hujan yang tak kunjung datang menyebabkan kekeringan di wilayah Gunungkidul semakin meluas. Kendati begitu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul belum menetapkan status darurat kekeringan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan belum dikeluarkannya status darurat kekeringan tersebut dikarenakan untuk dropping air bersih baru terpakai sekitar sepertiga dari total anggaran yang ditetapkan APBD 2018.

“Anggaran kami untuk dropping tahun ini baru terpakai sekitar Rp250 juta, dari total anggaran sekitar Rp638 juta. Sehingga kami belum menetapkan tanggap darurat kekeringan,” ucap Edy, Minggu (5/8).

Saat ini sendiri wilayah yang mengalami kekeringan masih ada di 54 desa yang berada di 11 Kecamatan. Ia mengatakan pendataan awal merupakan wilayah terdampak diambil skala luas. “Untuk wilayah terdampaknya kami ambil maksimal, sehingga kami bisa mengantisipasi sejak awal,” ujar dia.

Meski tidak ada luasan wilayah yang bertambah, namun saat ini peta masyarakat yang terdampak kekeringan meningkat. Semula ada 96.523 jiwa yang terdampak, kini bertambah jadi 116.216 jiwa.

Kecamatan Nglipar yang menjadi salah satu yang terdampak kekeringan, beberapa Desa yang terdampak di Kedungpoh, Pengkol, dan Katongan.

“Hanya beberapa titik saja yang mengalami kekeringan, karena belum teraliri PDAM, hanya mengandalkan tadah hujan. Biasanya membeli air saat musim kemarau ini, ya sekitar Rp125.000 hingga Rp150.000 per tangki,” kata Camat Nglipar, Witanto.

Dia mengatakan sejumlah desa yang berpotensi kekeringan tersebut juga sudah menganggarkan dari APBDes untuk membuat sumur bor untuk mengatasi kekeringan. “Selain itu juga mengajukan proposal ke Provinsi untuk pembangunan sumur bor, untuk mengatasi kekeringan,” kata dia.

Direktur PDAM Tirta Handayani, Isnawan Febrianto mengatakan saat ini total cakupan PDAM Tirta Handayani sudah 65% dan ditambah SPAMDes 25%. “Jaringan perpipaan 80 persen. Sisanya 20 persen merupakan air mandiri, sumur gali atau air permukiman, hingga daerah yang geografisnya tidak terjangkau perpipaan,” ujar Isnawan.

Dikataka dia untuk tahun ini pihaknya menyiapkan beberapa sumber air tambahan diantaranya di Tegalsari, Wonosari, lalu Sayangan Playen, dan di Karangmojo. Selain itu pihaknya berupaya meningkatkan kapasitas pompa air disejumlah titik.