Apindo DIY: Pemerintah Harus Ikut Mendorong UMKM Berkembang di Era Digital

Suasana saat digelarnya diskusi publik bertema Peran Pengusaha dalam Mengembangkan UMKM: Peluang dan Kendalanya di The Rich Jogja Hotel, Rabu (12/12/2018). - Istimewa
13 Desember 2018 21:20 WIB Arief Junianto Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) perwakilan DIY mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jogja sekitarnya untuk berkembang di era digital. Tak hanya itu dukungan terhadap kebijakan pemerintah juga dilakukan untuk mempercepat berkembangnya UMKM saat ini.

Ketua Apindo DIY Buntoro mengatakan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah dalam mengembangkan UMKM dan siap membina para pelaku UMKM di era digitalisasi guna menyejahterakan kehidupan masyarakat khususnya di wilayah DIY.  "Kami juga mengingatkan pentingnya pendampingan pelaku UMKM dari invasi produk-produk Tiongkok yang saat ini membanjiri pasar di Indonesia," kata Buntoro dalam diskusi publik yang diselenggarakan Jaya Sejati Mandiri bertema Peran Pengusaha dalam Mengembangkan UMKM: Peluang dan Kendalanya di The Rich Jogja Hotel, Rabu (12/12/2018).

Mengacu pada Perpres No.2/2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019, sasaran pembangunan UMKM dan koperasi yang akan diwujudkan adalah meningkatnya kontribusi UMKM dan koperasi dalam perekonomian yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB UMKM, meningkatnya daya saing UMKM, meningkatnya usaha baru, serta meningkatnya kinerja kelembagaan dan usaha koperasi.

Sedangkan strategi yang dilaksanakan, kata dia, antara lain meningkatkan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan akses pembiayaan dan skema pembiayaan, meningkatkan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran, penguatan kelembagan usaha serta peningkatan kemudahan kepastian dan perlindungan hukum.  "Untuk itu diperlukan sinergi antara pemerintah, pengusaha, pakar ekonomi, pelaku UMKM serta stake holder lain untuk memajukan UMKM dari persaingan global," kata dia.

Narasumber lainnya, Panutan S Sulendrakusuma dari Lemhanas mengungkapkan Indonesia masuk dalam 10 besar ekonomi terbesar di dunia pada 2030. "Indonesia akan fokus pada lima sektor utama untuk penerapan awal dari teknologi ini, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik," ujar dia.

Dekan Fakultas Ekonomi AMIKOM Jogja, Abidarin Rosidi, menyatakan di era digitalisasi berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada 2025. Saat ini beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan di Indonesia sudah terkena dampak arus era digitalisasi, contohya toko konvensional menjadi toko online, taksi konvensional bergeser menjadi taksi berbasis online

Dia menambahkan ancaman yang akan dihadapi di era digitalisasi yaitu akan berkurangnya sekitar 1-1,5 miliar pekerjaan sepanjang 2015-2025 karena digantikan posisi manusia dengan mesin otomatis. "Selain itu, untuk merespons kemajuan teknologi dibutuhkan skill antara lain kemampuan untuk memecahkan masalah, kemampuan untuk melakukan koordinasi, negosiasi dan persuasi, kemampuan listening, logical thinking dan monitoring, kemampuan untuk mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, serta cognitive flexibility, creativity, logical reasoning, problem sensitivity, mathematical reasoning dan visualization," ujar dia.