50 Bule Ikut Lomba Membatik

Julia, WNA asal Jerman (kanan) saat membatik dalam Lomba Membatik untuk Warga Negara Asing (WNA) yang digelar oleh Kanwil Kemenkum HAM DIY Pendopo Kridha Batik Manunggal Budaya, Gadingan, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (20/1/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
20 Januari 2019 15:20 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) DIY menggelar Lomba Membatik untuk Warga Negara Asing (WNA). Lomba yang diikuti oleh sekitar 50 orang WNA itu digelar di Pendopo Kridha Batik Manunggal Budaya, Gadingan, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (20/1/2019).

Uniknya, jika pada umumnya acara seremonial menampilkan pergelaran seni tradisi Jawa, kali ini justru tarian asal negara di Afrika Timur, Rwanda. Tarian itu ditarikan oleh salah seroang WNA asal Benua Hitam.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta, Sutrisno mengatakan lomba batik itu digelar dalam rangka memperingati Hari Bhakti Imigrasi ke-69. Selain lomba membatik, beberapa kegiatan lain juga digelar, seperti misalnya donor darah, tabur bunga dan kegiatan sosial di panti asuhan.

Selain untuk memperingati Hari Bhakti Imigrasi, melalui kegiatan tersebut, Sutrisno juga berharap bisa turut melestarikan batik. “Kami juga bermaksud untuk mengenalkan batik ke kalangan WNA. Dengan begitu, mereka tahu betapa kayanya budaya Indonesia,” kata dia, Minggu.

Sutrisno menjelaskan, seluruh WNA yang jadi peserta dalam lomba itu berasal dari berbagai kalangan. Di antaranya adalah dari tenaga kerja asing, wisatawan, dan juga mahasiswa asing. “Setidaknya ini adalah bukti bahwa kami akan selalu bersinergi dengan para WNA," kata Sutrisno.

Kepala Kanwil Kemenkum HAM DIY, Krismono mengatakan Lomba Membatik untuk WNA tersebut tidak hanya untuk memperkenalkan batik ke dunia internasional, tetapi dia juga ingin para WNA itu bisa membatik.

Dalam lomba itu, pihaknya akan menilai hasil karya terbaik dari para peserta. "Nanti yang juara akan kami beri piagam dan karya mereka akan kami pamerkan di Kantor Imigrasi Jogja," kata Krismono.

Julia, 28, WNA asal Jerman mengatakan tertarik mengikuti lomba membatik itu setelah dia menerima informasi salah satu temannya yang berada di Jogja. Lantaran penasaran, dia pun segera mendaftar jadi peserta.

“Saya belum pernah membatik sebelumnya. Saya sempat investigasi kecil-kecilan mengenai batik di Indonesia. Saya sangat tertarik untuk belajar. I love batik [saya cinta batik],” kata Julia.

Johanna, 25, mahasiswi asal Republik Ceko mengaku antusias dalam mengikuti perlombaan tersebut. "Saya mendapatkan pengalaman luar biasa saat ikut dalam perlombaan membatik ini," kata mahasiswi yang kini sedang berkuliah di Institut Seni Indonesia Jogja tersebut.

Dia mengaku agak kesulitan saat mengikuti lomba itu. Pasalnya, sejak awal panitia, kata dia, telah memberikan contoh motif tertentu. “Biasanya, saat membatik, saya lebih natural dan ekspresif, dan ketika saya dihadapkan dengan pattern tertentu saya harus lebih bekerja keras," kata Johanna.

Meski begitu, dia tetap membeikan apresiasi terhadap lomba itu. Menurut dia, program yang diinisiasi Kanwil Kemenkum HAM DIY tersebut mampu memberikan pengetahuan budaya Indonesia bagi tiap-tiap WNA yang sedang berada di Jogja.