3.000 Bibit Pohon Pewarna Alami Dibagikan ke Sentra Perajin Batik

Bantuan bibit pohon pewarna alami dari Lions Club Puspita Mataram saat didistribusikan ke masyarakat di Bangsal Sewokoprojo, Senin (11/2/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
11 Februari 2019 15:15 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Pemkab Gunungkidul berkomitmen mengembangkan produksi batik di Bumi Handayani. Selain terus memberikan pendampingan, para perajin juga diberikan bantuan bibit pohon pewarna alami untuk mewarnai batik yang dihasilkan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Gunungkidul, Sudodo, mengatakan Pemkab sangat berkomitmen untuk terus mengembangan industri batik di Gunungkidul. Menurut dia industri batik sejalan dengan program pengembangan kepariwisataan yang saat ini sedang digalakkan. “Batik dengan industri pariwisata bisa berjalan berdampingan karena kreasinya bisa menjadi cenderamata bagi wisatawan yang datang,” kata Sudodo, Senin (11/2/2019).

Menurut dia untuk pengembangan Pemkab tak hanya memberikan pendampingan serta mengikutkan perajin dalam pameran. Pemerintah berupaya memberikan bantuan salah satunya dengan menyerahkan bantuan bibit pohon pewarna alami.

Mantan Kepala Disdikpora ini menjelaskan bantuan bibit pewarna alami sangat penting karena bisa menjadi modal pengembangan batik tradisional yang ramah lingkungan. “Hari ini dibagikan 3.000 bibit pohon pewarna alami kepada warga di sentra kerajinan batik di Gunungkidul,” katanya.

Menurut dia bantuan benih ini terselenggara berkat kerja sama dengan Lions Club Puspita Mataram. “Rencananya ada 10.000 bibit yang akan dibagikan, tetapi untuk sekarang baru 3.000 bibit. Bantuan ini sangat bermanfaat karena mendukung pengembangan sentra batik di Gunungkidul,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Bagian Kesra Setda Gunungkidul, Azis Saleh. Menurut dia bantuan dari Lions Clum Puspita Mataram merupakan tindak lanjut dari hasil audiensi dengan Bupati Gunungkidul pada 28 Desember 2018. “Sekarang sudah direalisasikan dengan bantuan awal sebanyak 3.000 bibit hingga jumlah bantuan mencapai 10.000 bibit,” katanya.

Azis menuturkan bantuan yang diberikan langsung diserahkan kepada masyarakat yang masuk sentra kerajinan batik seperti di Desa Tancep, Kecamatan Ngawen; Desa Mertelu dan Ngalang di Kecamatan Gedangsari. Adapun bantuan yang diberikan terdiri dari bibit pohon mangga, jambu, manggis, nangka, buah naga dan indogofera. “Masing-masing memiliki warna alami sendiri. Misalnya jambu untuk pewarnaan abu-abu, durian untuk warna cokelat, manggis untuk warna merah atau indigofera untuk warna biru,” katanya.