KESEHATAN UROLOGI: Penyakit Ginjal Ancam Usia Produktif

Para siswa SMP Negeri 1 Jogja mengikuti edukasi rawat ginjal sejak dini, Rabu (8/1) di aula sekolah. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
01 Maret 2019 12:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Penyakit ginjal dinilai semakin mengkhawatirkan dan sering menyerang kelompok usia produktif, bahkan usia anak-anak. Oleh karena itu, perlu kepedulian dan kesadaran bersama untuk menekan angka penyakit ginjal.

Ahli Penyakit Dalam UGM yang juga dokter di RSUP Dr Sardjito, Heru Prasanto mengatakan jumlah pasien gagal ginjal semakin banyak dan memerlukan penanganan yang bertambah banyak dan kompleks.

“Untuk itu, tahun ini kami menitikberatkan pada promosi dan preventif. Kalau kami bisa melaksanakan itu tentunya nanti pasien gagal ginjal tidak akan bertambah terlalu banyak,” kata Heru, saat konferensi pers di RSUP Dr Sardjito, Kamis (28/2/2019).

Selain itu juga dilakukan promosi dan preventif untuk orang yang sudah terkena gagal ginjal. Jika sudah cuci darah, bagaimana meningkatkan kualitas hidup. Ada pilihan untuk kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien gagal ginjal yang sudah paripurna yakni cangkok ginjal atau transplantasi.

Ia mengungkapkan gaya hidup manusia sekarang menjadi salah satu penyebab penyakit gagal ginjak menyerang kelompok usia produktif. Aktivitas fisik yang kurang, bisa menimbulkan risiko terjadi gangguan ginjal. Setiap orang diharapkan mampu mengetahui risiko gangguan gagal ginjal.

Jika sudah menderita hipertensi atau diabetes biasanya risiko gagal ginjal tinggi. “Harus segera memeriksakan diri. Tidak kalah penting untuk memperhatikan batu ginjal yang sering dibiarkan karena belum merasa terganggu. Meski ringan harus segera ditangani,” tambah dia.

Heru mengungkapkan jika membicarakan penyakit ginjal, dua ginjal yang dimiliki manusia sangat vital fungsinya. Ginjal mempunyai daya kompensasi sangat tinggi, artinya rusak separuh pun tetap bisa bekerja. Di satu sisi sebagai anugerah, tetapi di sisi lain menjadi malapetaka karena deteksi dini terlewatkan.

“Sering sulit mendeteksi dini. Untuk itu sudah delapan tahun belakang, peringatan Hari Ginjal Sedunia mengampanyekan gerakan preventif gagal ginjal. Paling gampang memeriksa mutu urin. Jika ada protein di urin harus memeriksakan lebih lanjut fungsi ginjal,” ujarnya.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi RSUP Dr Sardjito, Iri Kuswadi mengatakan usia yang paling sering terjadi gagal ginjal pada usia produktif, yaitu 35 tahun-65 tahun meski begitu tidak menutup kemungkinan di usia anak-anak.

“Usia kurang dari 18 tahun sekarang sudah banyak, ada yang usia tiga tahun, empat tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun itu banyak sekali kejadian sekarang gagal ginjal oleh karena hipertensi pada anak-anak,” ucapnya.

Iri mengatakan pendorong banyaknya jumlah penderita penyakit ginjal dikarenakan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik hampir 52% penyakit ginjal karena itu dan kedua dikarenakan hipertensi yang tidak terkontrol sekitar 40%.

Untuk penanganan ginjal selain cuci darah atau hemodialisis di Runah sakit juga ada Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), tetapi dinilai paling efektif dengan transplantasi. Oleh karena itu, ia menyarankan kepada pemerintah untuk lebih mengedepankan metode transplantasi.

Transplantasi di negara yang sudah maju hampir 30%, sementara di Indonesia kurang lebih baru 1%. Dikatakan dia, Sardjito sudah menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan penyakit ginjal. Iri mengungkapkan saat ini pendonor tidak hanya dari keluarga sendiri, tetapi juga orang lain.

“Sardjito itu sudah melakukan [transplantasi] dari 52 pasien, hampir 14 pasien yang tidak ada hubungan dengan keluarga pasien. Itu kemajuan yang pesat, mungkin yang lain masih tergantung keluarga,” ucapnya.

Ke depan Sardjito ingin transplantasi ginjal bukan dari orang yang masih hidup, tetapi juga orang yang sudah meninggal. “Saat ini sedang kami jajaki. Kami tim transplantasi ginjal, kalau bisa yang pertama di Indonesia. Direncanakan September akan transplantasi ginjal dari orang meninggal,” ucapnya.

Direktur RSUP Dr Sardjito Darwito mengungkapkan rumah sakit selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien yang berobat. Untuk masalah penyakit ginjal atau cuci darah sudah ditanggung BPJS Kesehatan, kecuali pasien ingin naik ke pelayanan VVIP. “Memang saat ini sudah menjadi rujukan dari berbagai daerah,” ucapnya.

Melihat potensi penyakit ginjal pada manusia, RSUP Dr Sardjito bekerja sama dengan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dan Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Jogja memperingati Hari Ginjal Sedunia dengan tema Kesehatan Ginjal untuk Siapapun, di manapun. Turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam menyukseskan tema besar yang diangkat tahun ini dengan menyelenggarakan program Celebration of World Kidney Day, yang di dalamnya terdapat serangkaian agenda.

Mulai dari jumpa pers, talk show bertema Transplantasi Ginjal di JCM, Minggu (10/3). Ada juga simposium untuk dokter dan perawat unit dialisis di Jogja dan sekitarnya pada Kamis (14/3) yang bertepatan dengan Hari Ginjal.