Sungai Bedog Dinormalisasi

Sekdes Desa Sendangadi, Parjiyono saat memperlihatkan tebing di sisi timur sungai Bedog, Selasa (23/4/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah.
24 April 2019 09:57 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sungai Bedog yang melintasi Padukuhan Jaten, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman, akhirnya dinormalisasi, setelah belasan tahun aliran air berubah karena sedimen sungai. Aliran yang berubah menggerus tebing setinggi 12 meter disisi Timur sungai dan beberapa kali menyebabkan longsor.

Kepala Desa Sendangadi, Damanhuri, mengatakan, selama ini, warga khawatir dengan aliran sungai yang berubah dari jalur aslinya. “Dulu itu jalur aliran sungainya lurus, namun saat ini, jalur menjadi berbelok dan menabrak tebing setinggi 12 meter di Timur sungai,” ujar dia, Selasa (23/4/2019)

Hal tersebut, kata dia, sudah berlangsung selama belasan tahun dan menyebabkan tebing disisi Timur yang merupakan tanah kas desa tergerus hingga 1,2 hektare.

“Dulu juga pernah, karena derasnya aliran air, longsor dan menyebabkan bangunan kandang sapi dan juga sapinya yang berada diatas tebing hanyut. Penduduk juga merasa khawatir, kalau dibiarkan tebing bisa habis dan kena ke rumah warga,” ucap dia.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya  berusaha, dan akhirnya dari pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) merespon dan langsung datang ke lokasi dan menyanggupi normalisasi sungai. “Kami mengharapkan untuk normalisasi sepanjang 308 meter, namun ini baru menyanggupi 50 meter,” kata dia.

Petugas OP BBWSSO, Dono Aji, mengatakan, pihaknya akan melakukan normalisasi sungai dengan menggali sedimen yang ada  di badan sungai. “Jadi sungainya digali dua meter, nanti hasil galiannya diletakkan di sisi sebelah kiri sungai, sehingga arusnya tidak langsung menabrak tebing, pekerjaannya sekitar seminggu,” kata dia.

Ia menjelaskan, normalisasi hanya dilakukan jika kondisi sudah sangat membahayakan. Contohnya, jika aliran air semakin menyempit maka harus segera dilakukan normalisasi. "Jadi kami melihat kondisi juga. Dan di Sendangadi ini memang sudah membahayakan," ungkap dia

Sementara itu, Sri Isnawati, 44, warga Dusun Jaten, Sendangadi, Mlati yang rumahnya berjarak beberapa meter dari tebing mengaku bersyukur dengan normalisasi yang akan dilakukan tersebut.

“Dahulu jarak rumah saya dengan bibir tebing masih belasan meter. Namun, akibat perubahan aliran air itu, sebagian besar pekarangan rumah longsor,” kata dia.