Perajin Batik di Gunungkidul Berkomitmen Gunakan Pewarna Alami

Ilustrasi aktivitas pembatik perempuan. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
25 April 2019 23:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Perajin batik di Kabupaten Gunungkidul berkomitmen untuk menggunakan pewarna alami dalam proses pembatikan. Pewarna yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dinilai lebih ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan pencemaran.

Salah satu perajin batik asal Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Suyatmi, mengatakan sejak beberapa tahun lalu para perajin menggunakan perwarna alami dalam proses pewarnaan kain batik. Menurut dia, penggunaan bahan alami memiliki banyak keuntungan meski dari sisi hasil warna batik tidak secerah dengan pewarna buatan.

Meski demikian, kreasi tersebut menjadi ciri khas tersendiri sehingga penjualan juga dipatok dengan harga khusus. Setiap lembar kain batik pewarna alami dipasarkan dengan harga Rp500.000.

“Prosesnya butuh waktu sehingga berpengaruh terhadap harga. Apalagi saat musim hujan, butuh waktu lebih lama karena kain tidak kering maka warnanya semakin pudar. Tapi ini bukan masalah karena nyatanya batik dengan pewarna alami makin banyak diminati,” katanya di sela-sela pameran batik di Rest Area Gubuk Gede, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kamis (25/4/2019).

Suyatmi menjelaskan keunggulan dari perwarna alami selain teknologi yang digunakan ramah lingkungan juga dapat menghijaukan lingkungan yang gersang. Pasalnya, pohon pewarna alami bisa ditanam di lingkungan sekitar agar perajin dengan mudah mendapatkan bahan untuk pewarnaan. “Otomatis dengan meningkatnya kebutuhan pewarna alami, maka perajin harus menanam pohon sehingga di satu sisi juga masuk dalam program penghijauan,” katanya.

Bupati Gunungkidul, Badingah, mengatakan Pemkab mendukung pengembangan industri kreatif masyarakat. Ini lantaran keberadannya bisa mendukung pengembangan di sektor kepariwisataan.Menurut dia, tekstil berbahan alami menjadi ciri khas tersendiri. Selain itu dengan pewarna alami yang terdapat di sekitar rumah, masyarakat semakin mencintai lingkungannya. Pohon-pohon dijaga, dan ini berdampak pada ekosistem.

Pemkab, menurut Badingah, berupaya agar penanaman pohon terus dilakukan, salah satunya dengan menggandeng lembaga swasta. Sebagai contoh, masyarakat bekerjasama dengan Lions Club Puspita Mataram menanam 10.000 pohon di sentra kerajinan batik seperti di Desa Tancep, Kecamatan Ngawen; Desa Mertelu dan Ngalang di Kecamatan Gedangsari. Adapun bantuan yang diberikan terdiri dari bibit pohon mangga, jambu, manggis, nangka, buah naga dan indogofera. “Harapannya dengan penanaman pohon pewarna alami dapat mempermudah perajin mendapatkan bahan baku dalam proses membatik,” katanya.