Guru Diminta Tanamkan Pola Berpikir Kritis kepada Peserta Didik

Ilustrasi. - Espos/M. Ferri Setiawan
25 April 2019 14:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kulonprogo menggelar Bimbingan Teknis Penyusunan Soal bagi Guru Pendidikan Agama Islam di Aula Menoreh, Kemenag Kulonprogo, Selasa (23/4/2019) pagi.

Acara yang diikuti 30 peserta Guru PAI tingkat SMP, SMA dan SMK itu mengambil materi tentang Pengembangan Penilaian Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau  kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Pengawas Pendidikan Agama Islam, Ahmad Janadi, selaku narasumber dalam bimtek  menyampaikan banyak permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang menuntut untuk berpikir kritis. Dengan berpikir kritis maka akan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan hidup.

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari menuntut anak-anak untuk dapat berpikir kritis. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya berbagai tantangan dalam Kurikulum 2013. Baik tantangan internal berupa delapan standar pendidikan maupun eksternal yang meliputi permasalahan lingkungan hidup, kemajuan teknologi, industri kreatif dan kemajuan pendidikan internasional.

Oleh karena itu anak-anak dituntut untuk berpikir kritis. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat, sehingga anak harus diarahkan untuk membekali hidup dalam mengamalkan ilmunya. Anak-anak juga akan hidup di masyarakat yang komplek sehingga harus kritis untuk memecahkan masalah.

"Banyak lapangan kerja yang menuntut berpikir kritis, setiap saat harus bisa mengambil keputusan. Jadi berpikir kritis ini akan menjadi kunci berkembangnya kreativitas,” jelas Ahmad.

Terkait Kurikulum 2013, menurutnya mempunyai kerangka pengembangan antara lain kemampuan belajar dan berinovasi. Dalam hal ini anak-anak diharapkan untuk dapat menyelesaikan masalah, serta kreatif dan berinovasi, komunikatif dan berkolaborasi.

Untuk menunjang hal itu, perlu ditingkatkan literasi digital sebagai sumber informasi, media dan teknologi. Kecakapan hidup, anak dituntut untuk punya fleksibilitas, dan adaptabilitas, inisiatif dan mandiri, interaksi lintas sosial budaya, produktivitas dan akuntabilitas serta kepemimpinan dan tanggungjawab. "Selanjutnya karakter moral berupa cinta tanah air, nilai-nilai budi pekerti luhur, jujur, adil, empati, penyayang, saling menghormati, kesederhanaan, pengampun dan rendah hati,” ujarnya.