Hujan Menghilang, Petani Andalkan Air Sumur

Seorang petani, Wiyanto, menunjukkan tanaman terong yang ditanam di lahan pertanian di Desa Siraman, Kecamatan wonosari, Jumat (24/5/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
24 Mei 2019 22:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki musim kemarau, sejumlah petani di wilayah Gunungkidul terpaksa mengandalkan air sumur untuk mengairi lahan pertanian. Bahkan untuk menghemat air, petani hanya menyiram tanaman satu kali sehari.

Seorang petani terong di Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Wiyanto, mengatakan sejak hujan mulai menghilang, dia terpaksa menyiram tanaman terong miliknya dengan mengandalkan air sumur. Dalam sehari dia hanya menyirami tanaman sekali saja, yakni pada sore hari. "Kami mengandalkan air sumur untuk menyirami tanaman," ujar Wiyanto saat ditemui Harian Jogja, Jumat (24/5/2019).

Menurutnya, beberapa petani lain menyiram tanaman terong sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore hari. Wiyanto mengaku memilih menyiram tanaman sekali sehari dengan alasan menhemat air. "Kalau penyiraman dilakukan pagi hari, tanah lebih cepat kering. Saya lebih memilih menyiram tanaman pada sore hari, karena sampai pagi tanah masih basah," kata dia.

Selain itu, untuk tanaman terong jika disiram secara berlebihan akan memengaruhi rasa saat sudah matang. Ia menanam terong sudah sejak bulan Maret lalu. Ia menyatakan jika benar-benar tidak ada air, para petani memilih tidak bercocok tanam.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menjelaskan untuk membantu petani yang kesulitan air jajarannya memberikan bantuan berupa puluhan pompa air kepada gabungan kelompok tani (gapoktan) yang ada di setiap kecamatan. "Kecamatan Wonosari mendapat bantuan 46 unit pompa air sejak 2012 sampai 2018," kata Raharjo.

Dia menyatakan ada beberapa area pertanian di Gunungkidul yang mengandalkan air hujan untuk mengairi tanaman. "Kalau tidak ada hujan ya tidak bisa ditanami," ucapnya.

Berdasar laporan yang masuk, saat ini ada beberapa titik pertanian yang mulai kering lantaran tidak ada pasokan air seperti di sebagian Kecamatan Ponjong, Patuk, Semin, dan Gedangsari. Pada Mei ini, BMKG memprediksi masih ada curah hujan yang turun di Bumi Handayani. "Berdasarkan perkiraan BMKG, curah hujan masih di kisaran 50 sampai dengan 100 milimeter," katanya.