MUSEUM SONOBUDOYO : Menjaga Budaya Lewat Festival

Pengunjung saat mengikuti tur museum di museum Sonobudoyo Jogja - Ist
02 Juni 2019 04:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Selama lebih dari 84 tahun, Museum Sonobudoyo Jogja teguh memegang slogan Ana, Anjaga, Ambudhaya. Slogan ini mengandung makna bahwa Museum Sonobudoyo ada untuk menjaga kebudayaan.

Sejak masa pemerintah Hindia Belanda, museum ini berperan melestarikan budaya Jawa, Bali, Lombok dan Madura. Slogan ini pula yang diusung sebagai tema Sonobudoyo Culture Festival, sebuah kolaborasi antara Museum Sonobudoyo dengan AREA Collaboration Lab serta Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Sonobudoyo Culture Festival digelar di Museum Sonobudoyo, Jalan Trikora, Kota Jogja pada Sabtu (25/5/2019) lalu. Kegiatan yang terdiri dari tur museum dan pameran budaya ini dibuka untuk umum. Kegiatan ini menyasar mahasiswa pertukaran maupun wisatawan mancanegara untuk lebih mengenal budaya lokal.

“Melalui kegiatan ini, kami berusaha memperkenalkan Museum Sonobudoyo sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan. Ini salah satu bentuk dukungan kami untuk mempromosikan warisan budaya Nusantara. Kami berharap supaya masyarakat, khususnya generasi milenial, semakin sadar betapa penting berpartisipasi dalam melestarikan budaya,” kata Ketua Panitia Sonobudoyo Culture Festival, Aulia Agata melalui rilis kepada Harian Jogja, Sabtu (1/6/2019).

Kegiatan dimulai dengan tur museum yang dipandu oleh tour guide. Selama tur museum, peserta disuguhi berbagai macam koleksi yang berasal dari masa prasejarah. Sesudah mengikuti tur museum, peserta mengikuti serangkaian pameran budaya di ruang pendopo. Pameran budaya dibuka secara apik oleh Sanggar Tari Shinta Art Dance yang menampilkan tari Mangastuti. Rr Shinta Restu Wibawa selaku pemilik sanggar mengatakan tarian tersebut memiliki filosofi Jawa yang kental. Pada zaman dahulu, tarian ini disajikan untuk memulai ritual. Kini, tarian Mangastuti diadaptasi sebagai pembuka berbagai acara.

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari I Made Christian dan RAj Keshari Adiarastri, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang memberikan pengetahuan dasar mengenai tari tradisional Jawa.

“Setelah itu, masing-masing peserta dapat menikmati makanan dan minuman tradisional dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogja, Jawa Timur, Bali dan Lombok,” kata dia. Acara ditutup dengan sesi foto bersama serta pemberian goodie bag berisi buku panduan Museum Sonobudoyo dan produk Bakpiaku.