MUSIM KEKERINGAN : Pengelola Wisata di Bantul Beli Air Bersih

Ilustrasi warga mengambil air di sumber mata air karena kekeringan. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
16 Juni 2019 00:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Pengeloa objek wisata di Bantul terpaksa membeli air bersih untuk menjamin kenyamanan wisatawan saat musim kekeringan seperti saat ini.

Koordinator Pengelola Wisata Puncak Becici, Gandi Saputra, mengatakan pihaknya memanfaatkan air bersih dengan membeli dari sumur bor yang ada di permukiman penduduk, namun jika ketersediaan air di permukiman warga berkurang, langsung meminta pengiriman air dari wilayah Piyungan.

Kebutuhan air bersih di Puncak Becici dalam sehari sekitar satu hingga dua tangki. Tiap tangki berisi 5.000 liter dengan harga Rp75.000. “Tapi kalau musim libur bisa sampai empat sampai lima tangki,” kata Gandi, Sabtu (15/6/2019).

Sementara objek Wisata Pinus Sari dan Lintang Sewu, kata Gandi, air bersih dikirim dari wilayah Imogiri setiap harinya. Sejauh ini ia mengaku tidak ada kendala soal air bersih. Gandi menjamin ketersediaan air bersih untuk wisatawan masih aman.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul memastikan kekeringan yang terjadi saat ini belum terlalu berdampak terhadap sejumlah objek wisata di wilayah ini. Pengelola objek wisata sudah mengantisipasi kekeringan sejak jauh hari.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanto, mengatakan sejak awal Mei hingga pertengahan Juni ini baru mendistribusikan sebanyak 60.000 liter air bersih atau 12 tangki. Air bersih tersebut dikirim ke tiga desa, yakni Desa Segoroyoso ( Imogiri), Terong (Dlingo), dan Gilangharjo (Pandak) sesuai permintaan warga.

“Sejauh ini baru tiga desa yang mengajukan pengedropan air dan sudah kami kirim untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara untuk daerah wisata belum ada yang mengajukan,” kata Dwi.

Dwi mengatakan berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY musim kemarau akan terjadi hingga Agustus mendatang. Sejumlah kecamatan yang berpotensi kekeringan kibat berkurangnya curah hujan antara lain Piyungan, Sewon, Kasihan, Pleret, Bantul, Banguntapan, Imogiri, Sanden, Pandak, Kasihan, Kretek, Pundong, dan Sedayu.

Adapun sejumlah objek wisata yang berpotensi kekurangan air bersih, kata Dwi, adalah objek wisata di wilayah perbukitan terutama Mangunan dan Terong, Kecamatan Dlingo. Namun sejauh ini belum ada permintaan pengiriman air bersih dari objek wisata Mangunan sehingga ia mengklaim masih aman. Jika ada lonjakan permintaan, BPBD sudah mempersiapkan ketersediaan air bersih serta armada pengangkut.

Dwi mengaku sudah berkoordinasi dengan sejumlah organisaai perangkat daerah (OPD) dan swasta terkait dengan peminjaman armada dan ketersediaan sir bersih. Salah satunya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Selain itu, ada Dinas Sosial; Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman; Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Begitu ada permintaan kami sudah siap,” tegas Dwi.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Helmi Jamharis menyatakan meski anggaran pengedropan air bersih di BPBD Bantul terbatas, namun dalam penanganan kekeringan bisa memanfaatkan dana tak terduga jika dampak kekeringan semakin meluas.