Populasi Ikan Nila dan Tawes di Waduk Sermo Turun Akibat Red Devil, 1,2 Juta Bibit Ditebar

Sejumlah peserta menebarkan benih ikan nila dan tawes di Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Senin (24/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
25 Juni 2019 02:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Sebanyak 1,2 juta benih ikan nila dan tawes ditebar di perairan Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Senin (24/6/2019). Kegiatan yang diinisiasi Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Yogyakarta ini bertujuan merestok ikan endemik Waduk Sermo yang jumlahnya kian menurun akibat meningkatnya populasi ikan red devil.

Red devil merupakan jenis ikan predator yang pakannya adalah ikan-ikan kecil. Sejak beberapa tahun terakhir, ikan bernama ilmiah Cichlasoma labiatum itu hidup dan berkembang biak di Waduk Sermo. Kini populasinya mencapai 80 persen dari total jumlah ikan di waduk seluas 157 hektar tersebut. Hitungan ini berdasarkan hasil tangkapan nelayan setempat dalam sekali menjaring.

"Berdasarkan hasil tangkapan ikan dari nelayan, hampir 80 persen yang diperoleh itu ikan red devil," kata Kepala BKIPM Yogyakarta, Rina, di sela-sela kegiatan tebar benih ikan, Senin pagi.

Dibandingkan dengan ikan nila dan tawes, populasi red devil di waduk ini memang timpang. Jika terus dibiarkan, ikan-ikan lain bisa hilang. Dampaknya, merugikan kelompok nelayan yang menggantungkan hidup kepada hasil tangkapan ikan. "Atas hal itu kami lakukan tebar benih ini untuk mengembalikan keseimbangan alam," ujarnya.

Namun demikian, cara ini tidak akan efektif jika hanya dilakukan sekali. Perlu ada kegiatan serupa yang dilaksanakan secara berkala. Dalam proses penebaran juga perlu memperhatikan lokasi agar tidak dimangsa red devil.

"Seperti tadi kami tebar di pinggir, karena saya lihat tidak ada red devil, selain itu di tepian bisa jadi tempat berlindung ikan karena ada tumbuhan," ucapnya sembari menjelaskan jika ikan endemik yang ditebar akan hidup tanpa perlu diberi pakan rutin karena mengandalkan pakan alami seperti plankton dan lain sebagainya di Waduk Sermo.

Usai tebar benih, Rina meminta otoritas terkait tingkat kabupaten perlu memberi larangan penangkapan ikan setidaknya sampai benih-benih itu mulai tumbuh dewasa.

"Paling tidak selama dua bulan tidak ada kegiatan menangkap ikan, kecuali red devil, saya mengimbau kepada para penangkap ikan untuk terus menangkap red devil sebanyak mungkin, agar populasi ikan endemik kembali normal," kata dia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo, Sudarna mengatakan keberadan red devil di Waduk Sermo sudah ada sejak lama. Dia tak tahu pasti siapa biang keladi atas hadirnya ikan predator ini. Dugaannya, ada yang memang sengaja mengembang biakkan ikan itu untuk kepentingan ekonomi.

"Sekarang bisa kita lihat banyak yang jual di pasar hewan, tapi bisa juga ada yang iseng buang ikan itu ke sini, mungkin udah bosen pelihara ikan hias," ujarnya seraya bercanda.

Diakuinya, kehadiran red devil cukup mengkhawatirkan karena mengancam kelangsungan hidup ikan lain. Namun, tak semua ikan mati dan tidak berkembang. Menurutnya masih ada beberapa jenis ikan endemik yang tetap tumbuh besar meski hidup berdampingan dengan red devil.

Sementara itu Penasehat KUB Nelayan Pagar Rindu Waduk Sermo, Rahmadi, berharap adanya solusi konkrit terkait upaya menekan populasi red devil di Waduk Sermo. Ia mengusulkan pemerintah mengadakan kegiatan khusus menangkap ikan red devil.

Ikan tersebut kemudian dibeli oleh pemerintah dengan harga di atas pasaran. Dengan cara ini, masyarakat umum bisa berminat untuk membantu mengurangi populasi red devil di sana.