Debit Air di Sumur Berkurang, Warga Kesulitan Air Bersih

Penyaluran Bantuan Air Bersih. - Harian Jogja/Desi Suryanto
05 Juli 2019 08:57 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Warga di Dusun Gedang dan Dusun Kikis, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman mulai kesulitan air bersih. Debit air di sumur-sumur mulai berkurang memasuki musim kemarau tahun ini.

Salah seorang warga Dusun Gedang, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan Sleman, Yatimin, mengatakan, warga sudah mulai kesulitan air bersih sejak April lalu. “Setiap tahun, kalau musim kemarau seperti ini, warga memang selalu kesulitan air bersih,” kata Yatimin, Rabu (3/7/2019).

Ia mengatakan, sebenarnya, sudah ada sumur bor di Dusun Gedang, namun, sumur bor tersebut tidak bisa menjangkau semua warga. “Apalagi kalau kemarau, pasti debit airnya sedikit,” ucap dia.

Begitu pula dengan jaringan air bersih yang sudah ada, namun belum banyak membantu. Warga yang telah membayar Rp5.000 per meter kubik masih kesulitan mendapatkan air bersih karena debit air yang berkurang. “Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga mengandalkan satu sumur bor yang dibuat hasil swadaya warga,” ujar dia.

Pantauan Harianjogja.com, sumur tersebut terletak dibawah jurang, warga harus menimba air dan memasukkannya ke dalam tong yang telah disediakan disekitar sumur, baru nantinya air disalurkan ke rumah dengan menggunakan mesin pompa.

"Itu pun tidak bisa setiap hari mendapatkan air, karena harus bergilir dengan warga lainnya. untuk kebutuhan sehari-hari dicukup-cukupkan saja,” ucap dia.

Hingga saat ini, kata dia, belum ada bantuan droping air dari pemerintah. "Kalau tahun lalu sempat ada bantuan dropping air dari polisi,” ujarnya.

Salah satu warga di Dusun Kikis, Sambirejo, Prambanan, Sugiyem, mengatakan, daerahnya memang selalu menjadi langganan kesulitan air bersih saat musim kemarau sejak beberapa tahun yang lalu.  “Di sini ada PAM tapi airnya hanya kecil. Kadang yang keluar malah cuma angin, ketersediaan air saat ini hanya bisa untuk kebutuhan pokok,” kata dia.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengatakan hingga saat ini, BPBD belum menerima permintaan untuk droping dari masyarakat.

“Kami telah melakukan survei ke daerah Kikis. Sumur bor di Kikis masih ada air walaupun debitnya berkurang, sejauh ini masih cukup," katanya.

Ia memperkirakan, permintaan droping air mulai banyak saat puncak kemarau yang diprediksi pada Agustus mendatang.  “Tahun ini kami menyiapkan 75 tangki air untuk mengantisipasi kekeringan. Pada anggaran perubahan nanti kami mengusulkan tambahan, menjadi 200 tangki," ucap dia.