355 Telaga di Gunungkidul Mengering

Sutiyem, mengambil air dari lubang yang dibuat di Telaga Banteng, Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Selasa (31/7/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
21 Juli 2019 21:37 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bencana kekeringan sebagai dampak musim kemarau di Gunungkidul terus meluas. Dari 460 telaga yang ada di Bumi Handayani, sekitar 355 telaga kini mengering.

Kepala Bidang Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Taufik Aminudin, mengatakan jumlah telaga yang mengering saat ini tercatat sekitar 355. Jumlah itu bisa bertambah karena berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY, durasi kemarau tahun ini lebih panjang. "Kalau kemarau terjadi lebih lama, maka jumlah telaga yang mengering lebih banyak lagi," ujarnya saat ditemui Harian Jogja, Minggu (21/7/2019).

Taufik menyatakan hingga kini jumlah telaga yang sudah disurvei sebanyak 306 telaga. Survei dan pendataan terhadap telaga-telaga tersebut dilakukan setiap dua tahun sekali guna mengetahui kondisi, daya tampung, dan luas telaga. “Seluruh telaga di Gunungkidul mampung menampung air sekitar 5,1 juta meter kubik air," katanya.

Dia menjelaskan saat musim ratusan telaga yang tersisa hanya menyisakan air sekitar 1,1 juta meter kubik air. Di Gunungkidul, telaga sangat berguna untuk masyarakat yang berada di daerah minim air bersih. Warga sekitar memanfaatkan air telaga untuk mencuci, mengairi sawah dan mandi. Untuk konsumsi, warga memilih mengandalkan air bantuan dari pemerintah atau membeli air dari pedagang swasta. "Suplai air di sejumlah kawasan yang dilanda kekeringan sudah terbantu dengan adanya pasokan air dari PDAM Tirta Handayani atau pamsimas yang ada di sejumlah desa," tutur dia.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sapto Wibowo, mengatakan musim kemarau telah membuat sebagian warga di 14 kecamatan di Gunungkidul kesulitan memperoleh air bersih. "Warga mengandalkan dropping air bersih dari BPBD dan uluran bantuan dari donatur," katanya.

Menurutnya, BPBD telah menetapkan zona merah krisis air di dua kecamatan yaitu Kecamatan Rongkop dan Girisubo. "Masyarakat yang terdampak di Kecamatan Rongkop berjumlah 12.438 jiwa, sedangkan di Girisubo sebanyak 21.718 jiwa," katanya.