33.666 Siswi di DIY Diimunisasi agar Terhindar dari Kanker Serviks

Ilustrasi imunisasi - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
25 Juli 2019 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menggelar program imunisasi human papilloma virus (HPV) kepada 33.666 siswi di seluruh wilayah DIY. Untuk siswi kelas V dan sebagian kelas VI SD ini dimulai pada Agustus hingga November 2019.

Sekretaris Dinkes DIY, Siti Badriah, mengatakan program tersebut dilakukan untuk menekan angka penyakit kanker serviks yang cukup tinggi. Berdasarkan prevalensi penyakit tidak menular, penyakit kanker di DIY mencapai 4,9% atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 1,8%.

“Oleh karena tingginya angka kanker serviks di DIY, maka tahun ini kami gelar program imunisasi HPV,” katanya saat jumpa pers di Kantor Dinkes DIY, Kamis (25/7/2019).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018, penyakit kanker serviks masih menjadi beban bagi masyarakat Indonesia. Kasus ini terhitung tinggi karena setiap hari tercatat 58 kasus baru dan 26 orang meninggal karena kanker serviks. Bahkan tingkat kematian dalam lima tahun terakhir di Indonesia tertinggi untuk kanker serviks.

Dia menjelaskan program tersebut sebelumnya sudah dilakukan di dua kabupaten di DIY yakni Kulonprogo dan Gunungkidul pada 2017. Tahun ini program yang sama diterapkan di empat kabupaten dan satu kota.

“Imunisasi HPV ini sebagai langkah pemerintah untuk mencegah kanker serviks pada perempuan agar kualitas generasi mendatang menjadi lebih baik,” katanya.

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Dinkes DIY, Trisno Agung Wibowo, mengatakan bukan tanpa alasan Dinkes menyasar siswi kelas V dan VI untuk pemberian HPV. Menurutnya, jika anak-anak sejak dini diberikan imunisasi HPV diharapkan ke depan mereka bisa terhindar dari kanker serviks. Dia menjamin tidak ada efek samping dari pemberian vaksinasi tersebut. Dia juga menepis adanya anggapan pemberian vaksinasi HPV bisa berdampak pada kemandulan.

“Ini [vaksin] untuk proteksi bagi anak-anak perempuan agar saat dewasa nanti bisa terhindar dari kanker serviks. Tidak ada efek sampingnya,” kata Agung.

Dia menjelaskan, pemberian vaksin tersebut untuk tahun ini diberikan bagi seluruh siswi kelas V. Untuk tahun depan pemberian vaksin yang sama juga diberikan saat mereka duduk di kelas VI. Hal yang sama juga dilakukan di mana ada sekitar 8.000 siswi kelas V dari masing-masing kabupaten (Gunungkidul dan Kulonprogo) yang divaksinasi pada 2017 kemudian dilanjutkan pada 2018 bagi siswa yang sama.

“Pemberian HPV harus dilakukan dua kali. Kalau satu kali tidak optimal. Ini sesuai prosedur,” katanya.

Berdasarkan data Dinkes DIY, jumlah siswi yang disasar sebanyak 33.666 orang. Rinciannya, untuk wilayah Kota Jogja sebanyak 3.820 siswi dari 171 sekolah; Bantul sebanyak 6.942 siswi dari 434 sekolah; Sleman sebanyak 8.044 siswi dari 588 sekolah; Kulonprogo sebanyak 2.884 siswi dari 381 sekolah dan Gunungkidul 4.666 siswi dari 566 sekolah. Semua siswa yang divaksin merupakan siswa kelas V SD.

Jumlah tersebut belum termasuk siswi kelas VI SD yang tahun lalu sudah melaksanakan program baik di Gunungkidul maupun Kulonprogo. Total sebanyak 7.580 siswi tahun ini diberi imunisasi HPV kedua.

"Jadi total siswi kelas V yang diimunisasi sebanyak 26.086 siswi dan kelas VI sebanyak 7.580 siswi. Untuk siswi kelas VI kami beri imunisasi mulai Agustus dan kelas V pada November," kata Agung.

Dia berharap masyarakat bisa memanfaatkan program tersebut. Sebab biaya untuk pemberian sekali imunisasi HPV sangat mahal. Tarif normal antara Rp750.000 hingga Rp1 juta untuk sekali suntik. Jika dilakukan dua kali maka biayanya Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. Namun dengan program tersebut, harganya dapat diminimalkan sehingga anak-anak di DIY bisa mendapatkan imuniasasi. "DIY menjadi sasaran pemberian imunisasi ini karena angka kejadian kanker serviks di DIY itu tinggi sehingga dapat diperjuangkan untuk mendapatkan imunisasi ini," katanya.