Peringati HUT, SDM dan Sarpras Barahmus Masih Jadi PR

Para narasumber bersiap memaparkan materinya dalam seminar dengan tema Peran Barahmus DIY Masa Lalu, Kini dan Mendatang di Pendopo Agung Taman Siswa Jogja, Selasa (6/8/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
07 Agustus 2019 15:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski museum-museum di DIY terus berbenah, namun pengembangan permuseuman masih mengahadapi sejumlah persoalan. Salah satunya, terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pemenuhan sarana dan prasarana (sarpras).

Ketua Badan Musyawarah Musda (Barahmus) DIY Ki Bambang Widodo mengatakan di usia ke 48 tahun, Barahmus terus mendorong agar anggotanya terus berbenah. Pembenahan itu dibutuhkan agar museum yang dikelola bisa menarik minat masyarakat untuk datang.

"SDM permuseuman harus menyesuaikan dengan generasi milenial. Kalau penyajian dan narasinya hanya sekadarnya tidak akan menarik generasi milenial," katanya di sela-sela seminar dengan tema Peran Barahmus DIY Masa Lalu, Kini dan Mendatang di Pendopo Agung Taman Siswa Jogja, Selasa (6/8/2019).

Selain itu, lanjut Bambang, pengelola museum didorong terus melengkapi Sarpras. Pemenuhan fasilitas museum juga salah satu peningkatan pelayanan. "Sarpras juga harus ditingkatkan. Meskipun membutuhkan dana, namun peningkatan layanan tersebut sudah menjadi keharusan. Misalnya, bagaimana museum menyediakan fasilitas digital. Informasi koleksi museum bisa juga tampil di ponsel," katanya.

Dia mendukung kebijakan Pusat yang mengucurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk 111 museum di Indonesia. Museum di DIY memang tidak masuk dari 111 museum yang menerima DAK karena pengembangan museum di DIY didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais).

Barahmus akan memberikan rekomendasi bagi museum yang akan mengakses Danais sesuai proposal yang diajukan. "Pembenahan museum dilakukan secara bertahap. Seperti misalnya revitalisasi gedung Museum Wayang dapat Rp2 miliar," ujarnya.

Tahun lalu, menurut Bambang, jumlah pengunjung museum di DIY mencapai sekitar 5,1 juta orang. Tingginya jumlah kunjungan ke museum-museum ini salah satunya ditopang oleh kegiatan sekolah yang "mewajibkan" siswanya untuk mengunjungi museum.

"Ada program wajib mengunjungi museum. Ini bagian dari penguatan pendidikan karakter. Bagaimana museum ini menjadi pusat penguatan karakter bangsa," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Sigit Gunarjo berharap enam windu keberadaan organisasi Barahmus diharapkan terus memberikan inspirasi-inspirasi terkait pengelolaan museum. AMI, katanya terus mengawal agar pemerintah segera mengesahkan Undang-Undang (UU) tentang Permuseuman di Indonesia. "Alhamdulillah, informasinya, naskah akademik [Rancangan UU Permuseuman] sudah selesai. Sudah ada di Komisi 10 [DPR RI]. Tahun depan rencananya dibahas," katanya.

Menurutnya, UU Cagar Budaya yang selama ini juga menaungi tentang permuseuman tidak cukup mengatur tentang pengelolaan museum. Sementara, PP No.6/2015 tentang Museum juga dinilai tak bisa dijadikan payung hukum yang kuat. "Cagar budaya dan museum dua hal yang berbeda. Dengan adanya UU Permuseuman, nanti SDM mereka juga akan memiliki standardisasi. Ini revolusi yang harus segera diselesaikan," katanya.