Deteksi Autisme Bisa Dilakukan Lebih Dini

Pendidikan anak-anak atis, JIBI - Antara
09 Agustus 2019 10:57 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Panut Mulyono menjelaskan, saat ini kecenderungan angka kejadian Autism Spectrum Disorder (ASD) semakin meningkat secara global, termasuk Indonesia.

Data Center for Desease Control and Prevention pada 2018 menyebutkan, prevalensi kejadian penderita autisme pada 2000 sebesar 1:150 anak, menjadi sebesar 1:59 anak pada 2014. Pencetus meningkatnya angka tersbut disebabkan beberapa faktor.

"Misalnya, kemungkinan karena meningkatnya kesadaran deteksi dini dan diagnosis ASD. Kedua, kemungkinan karena meningkatnya paparan faktor risiko, seperti paparan polusi, penggunaan pestisida, semakin tinggi usia ibu saat melahirkan, penyulit kehamilan dan persalinan," ujarnya, dalam temu media kegiatan Seminar Umum Autism Spectrum Disorder, di ruang diskusi lantai 5, Gedung Sekolah Pasca Sarjana UGM, Kamis (8/8/2019).

Ia mengungkapkan, tingginya usia ibu saat mereka melahirkan memungkinkan terjadinya mutasi gen berisiko lebih tinggi melahirkan anak autisme.

Panut memaparkan, ASD merupakan gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan penderita untuk berinteraksi sosial, berkomunikasi baik verbal maupun non verbal, adanya gangguan perilaku, aktivitas berulang, adaptasi. Pada sebagian penderita ASD, gejala sudah muncul sejak awal sebelum usia dua tahun.

Dengan gambaran itu, sejatinya ASD bisa didiagnosis pada anak sebelum berusia dua tahun. Namun kenyataannya, sebagian besar anak ASD didiagnosis setelah usia empat tahun.

"Padahal, semakin dini anak terdiagnosis ASD, semakin dini akan mendapatkan penanganan yang tepat. Sehingga memiliki peluang kehidupan yang lebih baik di masa depan, berkualitas, diterima masyarakat dan diapresiasi lingkungannya," kata dia.

Kompleksnya permasalahan autisme mengakibatkan penderita memerlukan penanganan dari berbagai disiplin dan pendidikan yang sesuai, lanjut Panut. Oleh karenanya, seminar ASD yang diselenggarakan oleh UGM, FKKMK UGM dan Emtek dalam rangka memeringati Lustrum UGM itu, diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat.

Pertama, menggerakkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penderita autisme yang cenderung meningkat. Kedua, memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait deteksi sini pada penderita autisme. Ketiga, memberikan gambaran pendidikan berkelanjutan yang sesuai bagi penderita ASD. Keempat, mengintegrasikan pegiat layanan kesehatan, kedokteran dan pendidikan dalam menangani kasus autisme.

"Mari kenali autisme sejak dini dan dukung tata laksana yang tepat," ajaknya.