Desa Budaya Jadi Penunjang Pariwisata

Kesenian Gejog Lesung yang dibawakan oleh ibu-ibu dari Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu dalam acara rintisan desa budaya di Alun-alun Wonosari pada Jumat (9/8/2019). Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
10 Agustus 2019 11:47 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, WONOSARI -- Event Rintisan Potensi Desa Budaya yang diadakan selama lima hari oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul merupakan penunjang sektor pariwisata. Kegiatan ini selesai dihelat pada Jumat (9/8/2019). Sebelumnya, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunungkidul telah memilih 20 desa untuk menunjukkan kebudayaan dari masing-masing desa.

Sekda Kabupaten Gunungkidul, Drajad Ruswandono, mengatakan sebagaian desa yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut adalah desa wisata. Suguhan atraksi budaya juga menunjang wisata yang ditawarkan selain keindahan alam ataupun wisata buatan.  "Atraksi budaya dan atraksi wisata saling melengkapi satu sama lain," ujarnya, Jumat (9/8/2019).

Menurutnya, pemkab serius untuk mendorong potensi budaya dari 20 desa tersebut menjadi desa wisata budaya. "Selain itu agar lama wisatawan untuk menetap lebih lama karena ada atraksi budaya," jelasnya.

Kepala Disbud Gunungkidul, Agus Kamtono, menuturkan setelah menggelar festival desa budaya selama lima hari seluruh desa telah menampilkan potensi seni, adat, dan tradisi. Setiap desa yang tampil di atas panggung menyampaikan sejarah berdirinya desa.

"Rata-rata sudah menulis sejarah berdirinya desa," kata dia.

Menurutnya, 20 desa yang terpilih ialah desa yang mengirimkan profil desanya kepada Disbud. Kemudian, pihaknya membentuk tim penilai.  "Yang kami nilai seni, tradisi, pengunaan bahasa jawa, adat, permainan tradisional, dan bangunan tradisional masih ada atau tidak," katanya.

Perwakilan Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Maryono, menyatakan pihaknya memamerkan tiga hal yakni pertunjukan seni kerakyatan, pertunjukkan, dan stand. Seni kerakyatan yang ditampilkan reog, seni pertunjukkan menampilkan Langen Carita, dan stand yang diisi sablon cukil, lukis wajah, tosan aji. "Kami juga menjual batik, tas, dan kuliner asli desa kami," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Maryono, pihaknya pada hari terakhir menampilkan Nyadran Mbah Jobeh yang merupakan adat desanya. Di sisi lain, pengunjung yang datang membeli kerajinan kentongan. "Kentongan sudah laku lima buah, satu kentongan harganya Rp80.000 sampai Rp100.000," ujarnya.

Juara gelar potensi rintisan desa budaya yakni Desa Petir, Kecamatan Rongkop juara I, Desa Wonosari, Wonosari juara II, Desa Karangrejek, Wonosari juara III, Desa Logandeng, Playen juara IV, dan Desa Gedangrejo, Karangmojo sebagai juara V.