Kulonprogo Kejar Target Produksi Bawang

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Kamis, 15 Agustus 2019 23:57 WIB
Kulonprogo Kejar Target Produksi Bawang

Sejumlah pejabat Pemkab Kulonprogo dan Kecamatan Sentolo beserta Forkompinda tengah mengikuti prosesi tanam bawang merah di bulak Bulak Ngancar, Dusun Karangasem, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kamis (15/9/2019)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, KULONPROGO—Produksi bawang merah di Kabupaten Kulonprogo tahun ini ditargetkan mencapai 6.135 ton. Angka ini meningkat dibandingkan 2018 lalu yang sebanyak 4.970 ton. Guna merealisasikan target tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kulonprogo bakal memperluas lahan tanam.

Kepala Distanpangan Kulonpogo, Aris Nugroho mengatakan tahun ini program perluasan areal tanam bawang merah seluas 40 hektar. Rinciannya 10 hektare dibiayai APBD, 20 hektare APBN dan sisanya swadaya petani. Lewat program perluasan, diharapkan luas tanam bawang merah di Kulonprogo yang semula 536 hektare bisa meningkat hingga mencapai 600 hektare.

Selain perluasan, Distanpangan juga bakal mengintensifkan pembinaan dan pengawasan terhadap proses penanaman bawang merah. Pola tanam komoditas tersebut akan benar-benar diperhatikan agar saat panen hasilnya bisa sesuai harapan.  Dengan langkah-langkah ini, Aris optimistis produksi bawang merah di Kulonprogo pada 2019 bisa meningkat.

"Terlebih iklim sekarang juga mendukung, ditambah adanya program perluasan dan pengawasan, sehingga produksi diharapkan bisa meningkat dibandingkan tahun lalu," kata Aris di sela-sela kegiatan tanam bawang merah MT III di Bulak Ngancar, Dusun Karangasem, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kamis (15/9/2019).

Asisten Daerah II Bidang Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam, Setda Kulonprogo, Bambang Tri Budi Harsono mengharapkan petani dan dinas terkait selalu berkoordinasi untuk mengatasi dinamika permasalahan bawang merah. "Harapan kami ketika tanam bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat panen harga juga tinggi dan tidak merugikan petani," ucapnya.

Kepada petani, mantan Kepala Distanpangan Kulonpogo ini mengimbau untuk mengolah bawang terlebih dahulu setelah memanennya agar nilai jualnya lebih tinggi. Langkah ini sudah dilakukan Kelompok Wanita Putri Manunggal, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo. Kelompok tersebut, mengolah bawang merah menjadi produk olahan bawang merah goreng berjenama Super Bram.

"Pengolahan ini juga telah dibantu oleh Bank Indonesia, UGM perihal infrastruktur, teknologi dan peralatan pengolahan. Kami juga ikut fasilitasi," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online