Mako Brimob Gunungkidul Mulai Dibangun, Ditarget Rampung Desember
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Poniyem menunjukkan sumur miliknya yang mengeluarkan air tanpa pompa di rumahnya di Dusun Bundelan, Tancep, Ngawen, Jumat (23/8/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Air muncrat dari perut Bumi tanpa bantuan mesin pompa di Gunungkidul tidak hanya terjadi di Dusun Widoro Lor, Bendung, Semin. Kejadian serupa juga terjadi di sumur milik Poniyem, warga Dusun Bundelan, Tancep, Ngawen. Bahkan air sudah mengalir sejak dua bulan lalu.
Pemilik sumur, Poniyem mengatakan, keluarganya tidak mengira sumur bor yang dibuat akan mengeluarkan air tanpa bantuan pompa. Awalnya, pembuatan sumur hanya untuk mencukupi kebutuhan air bersih. Namun pada saat pengerjaan, air keluar dengan sendirinya. “Kaget dan juga senang karena air bisa langsung digunakan tanpa harus melalui bantuan pompa,” kata Poniyem kepada wartawan, Jumat (23/8/2019).
Menurut dia, air sudah keluar dari sumur selama dua bulan. Meski demikian, debit air untuk saat ini tidak sederas pada saat awal-awal pembuatan karena aliran semakin mengecil. “Kalau saat awal sangat deras karena air bisa memenuhi pipa ukuran empat inci. Tapi sekarang sudah mengecil, tapi airnya masih tetap keluar,” katanya.
Poniyem menuturkan, selain untuk mencukupi kebutuhan air keluarganya, sumur bor juga dimanfaatkan sembilan keluarga lainnya. Dia pun bersyukur sumurnya dapat memberikan manfaat bagi warga sekitar. “Saya tidak menjualnya, sebab warga yang membutuhkan bisa langsung ambil,” katanya.
Proses pembuatan sumur bor ini memakan biaya sebesar Rp5 juta. “Saya senang meski harus mengeluarkan uang banyak, tapi bisa terbayarkan karena air mengalir dengan baik,” katanya.
Sebelumnya, pada Senin (19/8/2019) di Dusun Widoro Lor, Bendung, warga heboh dengan munculnya air dari dalam sumur bor tanpa bantuan mesin pompa. Warga yang penasaran, berbondong-bondong untuk melihat sumur milik Suyadi. “Saya kaget karena baru setengah hari dikerjakan, airnya bisa naik sendiri,” kata Suyadi.
Menurut dia, ide membuat sumur bor karena ingin memanfaatkan lahan pertanian yang kosong pada saat kemarau. Suyadi pun berinisiatif membuat sumur seharga Rp6 juta. “Kedalammanya sekitar 60 meter. Air ini akan saya gunakan untuk bercocok tanam saat kemarau,” katanya.
Kades Bendung, Didik Rubiyanto, terus memantau sumur bor milik Suyadi. Menurut dia, sudah lima hari ini air mengalir dengan sendirinya dan dari sisi debit masih relatif stabil. “Debitnya masih sama dan mudah-mudahan airnya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Didik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 24 September 2026 lengkap dengan 15 perjalanan, waktu keberangkatan, stasiun, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 24 September 2026 dari Palur menuju Jogja lengkap dengan waktu keberangkatan di setiap stasiun.
Kenali enam pemain baru 5cm: Revolusi Hati. Roman King memerankan Zafran muda dalam prekuel film 5 cm yang dijadwalkan tayang akhir 2026.
DPRD Sleman mengingatkan potensi dampak jalan tol terhadap kunjungan wisatawan. Pemkab diminta memperkuat destinasi dan memperbanyak event pariwisata.
DPRD Bantul mengingatkan pengelolaan KDMP perlu pengawasan, manajemen yang kuat, dan produk lokal agar tak mengulang persoalan KUD.