Sekolah Diduga Jadi Tempat Mesum Guru dan Kepsek, Warga Protes

Nugroho, salah seorang tokoh masyarakat di Kemejing, Senin (9/9/2019), menunjukan salinan surat keberatan terkait dengan guru dan kepala sekolah yang diduga melakukan tindak asusila di sekolah. - Harian Jogja/David Kurniawan
09 September 2019 18:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Warga Desa Kemejing, Semin, Gunungkidul melayangkan surat keberatan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaharaga setempat. Surat ini sebagai bentuk protes atas tertangkapnya seorang kepala sekolah (Kepsek) dan guru yang diduga melakukan perbuatan asusila di sebuah sekolah di desa tersebut pada Kamis (5/9/2019) malam.

Tokoh masyarakat Desa Kemejing, Nugroho, mengatakan pihaknya sudah melayangkan surat keberatan ke Disdikpora Gunungkidul. Harapannya, surat tersebut dapat ditindaklanjuti karena adanya keresahan dari masyarakat. “Mudah-mudahan protes kami bisa diterima,” kata Nugroho kepada wartawan, Senin (9/9/2019).

Dia menjelaskan, bentuk protes dilakukan karena kecewa atas tindakan yang dilakukan oleh dua orang tenaga pendidik yang diduga berbuat mesum di sekolah. Bukti dari tindakan ini tidak hanya adanya penangkapan secara langsung, namun warga sempat melakukan perekaman terhadap aktivitas keduanya. “Dalihnya [terduga kedua pelaku] karena ingin curhat dan meminjam uang, tapi kalau dinalar tidak mungkin karena malam-malam berduaan di sekolah,” ungkapnya.

Meski demikian, lanjut Nugroho, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan video yang berhasil direkam diminta dihapus. Terlebih lagi, pihak keluarga dari kedua pelaku juga telah menerima yang diperkuat dengan surat pernyataan yang dibuat di Polsek. “Memang diminta dihapus agar tidak membuat semakin resah,” ungkap kepala dusun di Kemejing ini.

Nugroho menjelaskan, penangkapan guru dan kepala sekolah ini bermula dari aktivitas remaja yang ingin memanfaatkan fasilitas wifi gratis di sekolah. Pada saat di teras sekolah, anak-anak mendengar suara pembicaraan antara seorang laki-laki dan perempuan.

Curiga dengan suara itu, anak-anak yang semula ingin bermain mencoba mencari tahu dan melihat keduanya sedang berada di ruang guru malam-malam. “Setelah bukti-bukti kuat, saya langsung dipanggil ke lokasi kejadian. Pada saat saya datang, massa sudah banyak berkumpul di sekolah,” katanya.

Nugroho menuturkan, untuk menenangkan massa agar tidak berbuat anarkis langsung menelpon pihak Polsek Semin. “Kami bersyukur tidak terjadi aksi anarkisme. Tapi, sebagai bentuk protes, kami minta agar oknum kepala sekolah dipindah dan keduanya diberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.

Kepala Disdipora Gunungkidul, Bahron Rasyid membenarkan sudah menerima surat keberatan dari warga Kemenjing. Menurut dia, untuk permasalahan ini sudah melakukan penyelidikan yang salah satunya memeriksa para pelaku. “Sudah kami panggil. Namun untuk sanksi, kami harus lakukan kajian yang lebih mendalam,” katanya.

Bahron menuturkan, kedua pelaku yang diduga melakukan tindakan mesum bukan berasal dari sekolah yang sama. Untuk kepala sekolah bertugas di SD di Kemejing sedangkan perempuan merupakan guru di salah satu TK di Semin. “Keduanya PNS dan jika terbukti maka harus siap menerima sanksi,” katanya.