Tak Mau Terus-menerus Impor, UGM Rancang Alkes & Obat Buatan Sendiri

Ketua Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), Ade Tarya Hidayat (kanan) dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Paripurna (kiri), menandatangani nota kesepahaman di Ruang Sunflower, Hotel East Parc, Rabu (25/9/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
25 September 2019 22:57 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Universitas Gadjah Mada lewat UGM Science and Techno Park (STP UGM) bersiap mengurangi bahkan menggantikan produk alat kesehatan (alkes) dan obat impor yang selama ini menguasai pasar Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Paripurna, mengungkapkan STP UGM fokus dalam pengembangan hilirisasi alkes. Saat ini persentase terbesar ketersediaan produk alkes di Indonesia adalah produk impor. Kondisi itu tidak mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

"Karena itu kerja sama dengan industri itu adalah keniscayaan. Kami dapat input banyak dari industri dan industri juga dapat input dari kami, tentang seberapa besar kemampuan yang dimiliki universitas dalam membantu industri," kata dia, seusai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara STP UGM dan Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), di Ruang Sunflower, Hotel East Parc, Rabu (25/9/2019).

Paripurna menekankan kerja sama ini juga perlu dukungan pemerintah daerah dan pusat. "Jadi tidak hanya diilhami aspek komersialisasi belaka. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, kita [Indonesia] harus menangkan persaingan global," ungkapnya, dalam kegiatan yang diawali dengan Industry Gathering itu.

Ia menambahkan, ke depan UGM berencana memproduksi sendiri paracetamol. Paracetamol merupakan bahan obat dasar untuk memproduksi derivasi-derivasi produk obat yang dihasilkan, yang asalnya dari paracetamol.

"Sekarang ini kita masih impor, jadi mana mungkin harga obat yang diproduksi itu murah, kalau bahan bakunya masih impor. Itupun masih dikendalikan oleh negara penghasil paracetamol, persaingan obat di negara kita sendiri dimenangkan oleh asing," tututnya.

UGM baru saja mengembangkan stent (ring) jantung, yang desainnya akan diproduksi sendiri. Sehingga tidak perlu bayar harga paten ke luar negeri. Dengan demikian, pihaknya bisa menjual stent jantung dengan harga lebih murah. "Lagi-lagi ini akan menggantikan posisi importir. Tantangannya masih banyak," ucapnya.

Dalam Industry Gathering, ia menjumpai ide lain, ada potensi bisnis yang lebih besar, yaitu memproduksi bahan-bahan yang sifat teknologinya tidak harus selalu canggih tapi nilainya bisa besar, yaitu disposable. Berupa barang-barang rumah sakit yang dibuang setelah dipakai. Ia mengakui, walau teknologinya mudah, namun ada tantangan cukup besar, mencakup kemampuan produksi dalam jumlah besar.

Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi STP UGM, Hargo Utomo, menyebutkan ada tiga fokus dalam kegiatan STP UGM. Yaitu bidang farmasi, kesehatan, bidang agro, bidang digital.

Ia menyatakan, kesiapan sarana dan prasarana infrastruktur untuk bidang kesehatan sudah disiapkan secara bertahap. Paling tidak sudah ada sejumlah produk yang siap dan sudah dihilirisasi. Antara lain alat pengganti tulang, alat pemberhenti darah kalau operasi, tes kanker dan lainnya yang merupakan inovasi orisinal dari Indonesia. Di luar itu, ada 10 produk lagi, tengah mengantre dikembangkan, semuanya untuk kepentingan masyarakat Indonesia dan dunia.

Ketua Aspaki, Ade Tarya Hidayat, mengapresiasi undangan dan MoU dari UGM. Menurut Ade, STP UGM adalah STP yang terbaik dimiliki universitas di Indonesia.