Paceklik Culture Festival, Mengenang Peristiwa Paceklik 1963 di Gunungkidul

Warga menyaksikan Paceklik Culture Festival 2019 yang diadakan oleh komunitas Sekar Nyentrik. - Ist/Panitia komunitas Sekar Nyentrik
06 Oktober 2019 22:47 WIB Kiki Luqmanul Hakim (ST16). Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Terinspirasi dari peristiwa sejarah kelaparan yang pernah terjadi di Gunungkidul pada 1963 serta sebagai memori masa lalu yang tak bisa dilupakan, komunitas Sekar Nyentrik, Ruang Kreatif Masyarakat Seni Gunungkidul, menggelar ruang pertunjukan bagi seniman dan pelaku seni dalam acara Paceklik Culture Festival 2019 yang diselenggarakan sejak Jumat (4/10/2019) hingga Minggu (6/10/2019).

Ketua Panitia selaku Ketua Komunitas Wawan Kurniawan mengatakan acara yang digelar di Dusun Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang ini menghadirkan tokoh-tokoh budaya dan masyarakat untuk menikmati sarasehan budaya serta berbagai pentas seni dan juga pameran seni.

“Tujuannya acara ini selain untuk mengenang peristiwa pada 1963 itu kami juga ingin memberikan ruang bagi para seniman-seniman yang ada untuk berkarya khususnya di Gunungkidul, karena kami takut semangat seni mereka berkurang jika punya ruang,” katanya kepada Harianjogja.com pada Minggu (6/10/2019).

“Selain itu kami juga ingin mempromosikan wisata religius yang ada di daerah kami, kan acara ini bisa menarik para pengunjung untuk datang ke desa kami, ke depannya ya semoga daerah kami bisa di kenal masyarakat luas dan seni di Gunungkidul tetap hidup,” lanjut Wawan.

Asisten Keistimewaan mewakili Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Beni Suharsono, mengatakan atas nama Pemda DIY menyambut baik dan menyampaikan ucapan selamat sekaligus mensuport diselenggarakannya kegiatan ini oleh Komunitas Sekar Nyentrik.

"Kita patut berbangga kepada Komunitas Sekar Nyentrik selaku penggiat dan pengamat budaya ,yang menghelat kegiatan ini dalam rangka memberikan pendidikan sejarah lewat kebudayaan, dan memberikan cerminan kehidupan masa lalu lewat kemasan budaya dan seni," Katanya.

"Komunitas Sekar Nyentrik ingin mengajak kita untuk merasakan peristiwa paceklik, dengan harapan jangan sampai peristiwa paceklik ini terjadi pula pada peristiwa paceklik kebudayaan, didaerah istimewa, miniatur Indonesia yang memiliki potensi yang sangat luar biasa di berbagai bidang, penghargaan setinggi- tingginya kepada Komunitas Sekar Nyentrik yang telah berkontribusi menghidupkan dan menjaga ekosistem kebudayaan untuk setiap objek pemajuan budaya melalui festival ini," tutur Beni.

Sementara itu Bupati Gunungkidul yang berhalangan hadir diwakili oleh Agus Kamtono Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul dalam sambutannya menyampaikan menyambut positif atas inisiatif Komunitas Budaya Sekar Nyentrik dalam melakukan berbagai upaya kreatif dalam pengembangan potensi budaya dan seni lokal Gunungkidul.

"Yang dilakukan beragam komunitas seni dan budaya di Gunungkidul merupakan wujud nyata dukungan, kebanggaan dan kontribusi dalam pengembangan dan pemajuan seni budaya daerah. Hal ini selaras dan menjadi daya dukung bagi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mewujudkan Gunungkidul sebagai daerah tujuan wisata terkemuka dan berbudaya, menuju masyarakat yang berdaya saing, maju, mandiri dan sejahtera tahun 2021," kata Agus Kamtono.

Acara yang juga didukung oleh Dinas Pariwisata DIY ini di tutup oleh pergelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Hariyanto yang menampilkan judul Semar Semar Manegis.