Kekeringan Panjang, Produksi Jagung DIY Diprediksi Meningkat

Panen jagung di Celep, Srigading, Sanden, Bantul, Kamis (10/10/2019). - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin
11 Oktober 2019 00:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-- Dinas Pertanian DIY menyebut produksi jagung tahun ini dipastikan meningkat dan mampu melampui target. Sebab kekeringan tahun ini lebih panjang sehingga banyak petani yang mengganti tanaman padi ke tanaman komoditas lainnya salah satunya jagung yang bisa tumbuh dengan di musim kering.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko mengatakan target produksi jagung tahun ini sekitar 350.000 ton yang tersebar di empat kabupaten, namun terbanyak di Gunungkidul dan Bantul.

“Dari target 350.000 ton sudah tercapai sekitar 90-95 persen [315.000 322.500 ton],” kata Sasongko, seusai panen raya jagung inbrida di bulak sawah Celep, Srigading, Sanden, Bantul, Kamis (10/10/2019).

Ada enam hektare tanaman jagung hibrida yang dipanen massal di Celep. Bibit namanam jagung tersebut bantuan pemerintah. Sasongko mengatakan produksi jagung hampir stabil dari tahun ke tahun. Pada 2018 lalu produksi jagung sekitar 320.000 ton. Peningkatan tajam baru tahun ini, “Saat musim kering ini menanam jagung menguntungkan,” ujar Sasongko.

Berdasarkan hasil perbincangan dengan petani Celep, kata Sasongko, harga jagung di angka Rp4.000 per kilogram. Harga tersebut diakuinya masih wajar. Namun untuk meningkatkan harga jual, pihaknya menyarankan petani untuk bersatu dan tidak menjual sendiri-sendiri pada pedagang atau tengkulak. Jagung hasil panen sebaiknya dikumpulkan, kemudian ditawarkan kepada lebih dari satu pedagang.

Jika perlu, kata dia, model penjualan saat ini bisa memanfaatkan teknologi internet lewat telepon selular agar penawar lebih banyak sehingga kesempatan untuk menaikkan harga lebih besar.

Sementara di Bantul produksi jagung saat ini sudah mencapai sekitar 25.672-27.182 ton atau sekitar 85-90% dari target 30.203 ton pada tahun ini. Target tersebut terdiri dari 3.622 hektare lahan dengan target hasil produksi per hektare sekitar 83,38 kwintal.

“Capaian produksi jagung di Bantul ini melebihi rata-rata nasional,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DP2KP) Bantul, Raden Bambang Pin Erwanto.

Bambang mengatakan tanaman jagung merupakan salah satu komoditas unggulan selain padi dan kedelai di Bantul, terutama saat musim kemarau. Pihaknya berupaya mempertahankan produksi jagung di angka 28.000-30.000 ton per tahun untuk mempertahankan swasembada pangan yang berkelanjutan.

Bupati Bantul, Suharsono mengatakan jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Jagung memiliki banyak keuntungan salah satunya dari sisi agrobisnis agribisnis, karena jagung banyak terkait dengan kegaiatan industri pakan, pangan, serta adanya peluang ekspor.