Alumni UGM Tolak Kedatangan Abdul Somad

Jumpa pers alumni UGM Setia Pancasila pada Jumat (11/10/2019) di University Club UGM. - Harian Jogja/Fitriatul Choiriyah (M129)
11 Oktober 2019 21:57 WIB Fitriatul Choiriyah (M129) Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Setia Pancasila turut menolak kedatangan ustaz kondang Abdul Somad (UAS) ke masjid kampus tersebut untuk memberi kuliah umum.

Alumni UGM Setia Pancasila menggelar jumpa pers pada Jumat (11/10/2019) untuk menyatakan sikap menolak kedatangan UAS dan mendukung keputusan pimpinan universitas yang tak mengizinkan kegiatan itu berlangsug.Sejumlah alumni menuding ada politisasi agama di kampus dengan kehadiran UAS yang rencananya bakal mengisi kuliah umum pada, Sabtu (12/10/2019).

Alumni UGM Setia Pancasila juga membeberkan hasil penelitian Setara Institute pada Mei lalu. Penelitian itu menyebut sepuluh PTN di Indonesia terpapar paham radikal. Sepuluh PTN tersebut antara lain UI, ITB, UGM, UNY, UIN Jakarta dan Bandung, IPB, Universitas Brawijaya, Uniram dan Universitas Airlangga. Kampus tersebut biasanya menggunakan masjid dan musala sebagai basis kegiatan kaderisasi.

Alumni FIB UGM 1987, Yuni Satia Rahayu, mengatakan pihak rektorat menunjukkan sikap kewaspadaan UGM atas berkembangnya anasir-anasir dan paham radikal di kampus tersebut.

Ia dan berbagai alumni UGM mendukung secara moril kepada rektorat UGM atas sikap dan kebijakannya yang selama ini diklaim tetap menjaga keutuhan NKRI serta setia kepada Pancasila.

"Kami juga menolak segala bentuk politisasi agama yang bertujuan bagi pengembangan paham radikal,", kata Yuni Satia Rahayu.

Ia mengatakan alumni UGM Setia Pancasila merasa terusik dari sikap dan tindakan takmir masjid UGM yang dianggap melakukan perlawanan terhadap keputusan Rektor UGM tentang penolakan UAS di kampus tersebut.

"Kami sangat keberatan dan berharap takmir masjid Bersedia menaati peraturan yang dibuat oleh rektor UGM," kata dia.

Alumni kata dia menolak jika masjid tersebut digunakan untuk kegiatan politik. Hal tersebut kata dia tidak sesuai dengan sejarah berdirinya masjid tersebut serta nilai-nilai Pancasila. Walaupun masjid itu milik umat menurutnya perlu ditekankan bahwa masjid tersebut milik UGM. "Keputusan rektor sama sekali tidak dihargai," ucapnya.

Dikatakannya, takmir masjid UGM dulu pernah mengundang kelompok HTI dan sekarang mengundang UAS di masjid tersebut. Agung Wibawanto, salah satu alumni menilai ustaz Abdul somad sebagai sosok kontroversial.

"Kami juga mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa menjaga kesatuan dan persatuan dalam bingkai NKRI dan dasar negara pancasila," kata Agung.

Ketua Takmir Masjid UGM, Mashuri Maschab, sebelumnya menegaskan kuliah umum yang mengundang UAS merupakan sebuah kegiatan akademik bukan tablig akbar atau ceramah agama.

Selama ini kata dia, takmir masjid punya kajian profetik melibatkan mahasiswa atau masyarakat yang mau belajar relasi agama dengan pengetahuan. Masjid kampus UGM kata dia bukan lapangan untuk tablig akbar. "Kami sejak awal menjadikan masjid sebagai majelis ilmu," katanya beberapa waktu lalu.

UAS rencananya akan mengisi diskusi panel yang juga terdapat moderator serta panelis lainnya. Ia mengklaim, panelis yang sudah mengonfirmasi kehadirannya adalah Profesor Heddy Shri Ahimsa Putra. Menurutnya, alasan diundangnya UAS dalam kuliah umum karena kapasitas keilmuan yang dimilikinya. "Dia orang yang tidak hanya paham agama saja tapi juga keilmuan yang lain," ungkapnya.