Desa di Kulonprogo Bikin Pasar Kuliner Bebas Sampah Plastik

Pembeli di Pasar Sempulur, Pagerharjo membeli makanan dengan bungkus daun pisang, Minggu (13/10/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
13 Oktober 2019 21:57 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Banyaknya pemakaian plastik sekali pakai menjadi perhatian Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Samigaluh, Kulonporgo. Bekerja sama dengan The Samdhana Institute, Pokdarwis Samigaluh membuat pasar kuliner bernama Pasar Sempulur yang bebas sampah plastik.

Di Pasar Sempulur, pedagang yang berasal dari Pagerharjo diwajibkan menjual dagangannya tanpa menghasilkan sampah plastik. "Kami edukasi untuk bungkus makanannya pakai daun pisang," kata Ketua Pokdarwis Pagerharjo, Setiyoko, 25, saat ditemui di sela-sela kegiatan Pasar Sempulur di Camp Ground Watu Kruyuk, Pagerharjo, Minggu (13/10).

Adapun untuk makanan basah, pedagang diharuskan menggunakan wadah makan yang bisa dipakai ulang, seperti mangkok keramik dan gelas kaca.

Jika ada pedagang yang menggunakan plastik sekali pakai, panitia akan menegur. “Ini sebagai bentuk edukasi kami menumbuhkan jiwa rekoso, tidak serba instan. kami ajak kembali ke zaman simbah dulu. Jual beli tanpa plastik pun bisa, dengan memanfaatkan apa yang sudah disediakan alam," kata Yoko.

Sosialisasi tak hanya dilakukan kepada para pedagang, melainkan juga pada pembeli. Untuk membawa makanan pulang, pembeli diajak menggunakan wadah sendiri. Jika tidak bawa, panitia menyediakan besek (wadah dari anyaman bambu) dan tas kanvas. “Harapannya pembeli enggak langsung buang, tapi eman-eman karena bisa dipakai lagi," ujarnya.

Pasar Sempulur yang berlangsung Jumat (11/10) lalu akan berakhir pada Sabtu (19/10) mendatang. Acara yang semula bekerjasama dengan The Samdhana Institute, di akhir acara akan diserahkan ke desa untuk dikelola warga.

Kepala Desa Pagerharjo, Widayat, mengapresiasi kegiatan ini. "Selain keprihatinan kami dengan banyaknya sampah plastik, kami juga menyayangkan setiap ada agenda budaya di sini [Pagerharjo] yang jualan malah bukan warga sini. Perputaran uang jadi enggak diterima warga Pagerharjo," kata Widayat.

Ancaman masalah plastik memang tak main-main. Mengacu data yang dihimpun Kementerian Perindustrian 2019, dalam lima tahun konsumsi plastik naik dari 17-23 kilogram jadi 25-49 kilogram per kapita pertahun. Dan mengacu data Sustainable Waste Indonesia (SWI), kurang dari 10% sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50% sampah plastik tetap berakhir di tempat pembuangan akhir.