Dispar Gelar Festival Dolanan Anak dan Jajanan Pasar di Tahura Bunder

Salah satu kontingen saat menampilkan dolanan anak di acara Festival Dolanan Anak dan Jajanan Pasar di Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kecamatan Patuk, Minggu (27/10/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
28 Oktober 2019 08:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul bekerja sama dengan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Gunungkidul menggelar Festival Dolanan Anak dan Jajanan Pasar di Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kecamatan Patuk, Minggu (27/10/2019).

Kegiatan tersebut dengan menggadeng 18 kecamatan se-Gunungkidul yang berasal dari unsur siswa SD untuk perlombaan dolanan anak dan ibu-ibu PKK untuk perlombaan menyajikan jajanan pasar. Panitia juga menyiapkan para juri yang kompeten dan hadiah menarik berupa trofi dan uang pembinaan.

Kasi Promosi dan Informasi Wisata Dinpar Gunungkidul, Purnomo Sumardamto, menjelaskan kegiatan ini selain sebagai bentuk dukungan terhadap pariwisata, sekaligus menggali potensi lokal seperti dolanan anak dan jajanan pasar yang belum dikenal luas di kalangan masyarakat.

"Kami ingin menggali potensi lokal yang ada di tengah masyarakat khususnya di desa wisata sehingga mampu menjadi salah satu pendukung pariwisata di Gunungkidul," kata pria yang akrab disapa Damto kepada Harian Jogja, Minggu (27/10/2019).

Damto mengungkapkan, kekayaan alam yang menjadi poros utama pariwisata di Gunungkidul sudah sangat baik sehingga dengan hadirnya festival seperti ini, masyarakat mampu memberikan nuansa yang beda terhadap penunjang kuliner dan atraksi yang ada di desa wisata. "Harapannya mereka bisa mengemas dengan baik lagi untuk ditampilkan kepada para turis dan wisatawan yang berkunjung," ujarnya.

Dinpar Gunungkidul, kata Damto, tak berhenti sampai di titik ini. Namun secara berkelanjutan akan terus mengenalkan dan menggali potensi yang ada di masyarakat demi kemajuan pariwisata di Gunungkidul.

Kepala Dinpar Gunungkidul, Asti Wijayanti, menuturkan terselanggaranya dua kegiatan positif ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan tradisional yang ada di Bumi Handayani. Sebab, banyak anak-anak zaman sekarang sudah lupa atau tidak pernah memainkan dolanan anak tradisional. "Dolanan anak sudah mulai dilupakan maka kegiatan ini kami mengingatkan kembali untuk melestarikannya dan nantinya bisa dicintai masyarakat luas," ujarnya.

Poin penting dalam melestarikan dolanan anak ini, menurut Asti, masyarakat bisa menjadikannya modal penting dalam menambah dan menampilkan seni atraksi di desa wisatanya masing-masing. Hal itu mendukung promosi desa wisata di titik-titik wilayah yang sedang dikembangkan Dispar Gunungkidul. "Dolanan anak bisa dijadikan sebagai atraksi yang bisa ditampilkan oleh masyarakat di desa wisata yang saat ini tengah kami kembangkan," kata dia. Sedangkan jajanan pasar juga diharapkan akan mampu menjadi jajanan tradisional yang baik dan disukai dengan tampilan higienis dan menarik sehingga pantas dan wajib dibawa oleh wisatawan sebagi buah tangan atau oleh-oleh.

Pembimbing Dolanan Anak dari Kecamatan Ngawen, Nofvin Sundaryanti, mengapresiasi kegiatan tersebut. Selain menjadi dorongan, anak-anak bisa mengetahui jenis-jenis permaianan anak yang populer pada masanya. "Sangat baik agar anak-anak bisa mengenal dolanan anak, tidak hanya gadget saja," katanya.