BYD M6 Tes Jalan di Bantul, MPV Listrik Tembus 530 Km
BYD gelar test drive MPV listrik BYD M6 di Bantul. Mobil listrik keluarga ini diklaim mampu menempuh 350 km sekali cas.
Ilustrasi uang. /Bisnis- Dwi Prasetya
Harianjogja.com, BANTUL-- Sebanyak 21 desa di Bantul belum bisa mencairkan dana desa tahap tiga yang nilainya mencapai sekitar Rp10 miliar. Desa-desa tersebut tidak bisa mencairkan dana desa tahap tiga karena serapan anggaran dana desa tahap satu dan dua masih rendah atau belum mencapai 70%. Pemerintah Kabupaten memita ke-21 desa tersebut segera mempercepat serapan anggaran.
Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Desa, Sekretariat Daerah Bantul, Kurniantoro mengatakan dana desa tahap tiga seharusnya sudah ditransfer ke rekening desa pada Juli lalu. Sementara tahap I Januari dan tahap II Maret. Namun hingga menjelang akhir tahun ini dari 75 desa masih ada 21 desa belum bisa mendapat transferan karena serapan anggaran masih rendah.
“Syarat pencairan dana desa tahap ketiga ada ketentuannya, realisasi tahap satu dan dua minimal 50 persen outputnya atau realisasi fisiknya dan 70 persen realisasi keuangannya. Ada 21 desa ini belum memenuhi syarat minimal untuk ditransfer,” kata Kurniantoro, di kantornya Rabu (30/10/2019) siang.
Pihaknya tidak diam saja namun sudah berupaya untuk mempercepat serapan dana desa di 21 desa dengan menyurati kepala desa, memanggil pemerintah desa, bahkan sampai mendatangi langsung desanya. Tim menanyakan langsung berbagai persoalan rendahnya serapan anggaran
Dari hasil penelusuran, kata dia, terdapat desa yang sudah melaksanakan kegiatan fisik lebih dari 50%, namun laporannya di Aplikasi Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN) belum diperbaharui, “Ada yang pekerjaan fisiknya sebenarnya sudah selesai tapi belum dibayar,” kata Kurniantoro.
Kurniantoro tidak menyebut 21 desa yang serapan anggaran dan kegiatannya masih rendah tersebut karena dikhawatirkan ada yang sudah memenuhi target namun laporannya belum diperbaharui di OM-SPAN.
Kepala Sub Bagian Keuangan Bagian Administrasi Desa, Sekretariat Daerah Bantul, Suprianta menambahkan dana desa tahun ini terbesar adalah Desa Selopamioro sebesar Rp2,2 miliar dan terkecil Desa Imogiri Rp903 juta.
Besar kecilnya dana desa, kata Suprianta, terdapat sejumlah indikator yang mempengaruhi, di antaranya jumlah penduduk keseluruhan, jumlah penduduk miskin, indek desa membangun (IDM) atau ketahanan sosial dan ketahanan ekonomi. “Tahun depan 2020 transferan dana desa tertinggi masih Desa Selopamioro dan terkecil masih Desa Imogiri,” kata dia.
Sementara total keseluruhan transferan dana desa untuk 75 desa di Bantul tahun ini sebesar Rp98,3 miliar. Suprianta mengatakan 2020 mendatang ada kenaikan transferan dana desa menjadi Rp106 miliar. Selain itu, tahun depan rencananya ada indikator penggunaan dana desa sehingga bagi desa yang serapan anggarannya tinggi akan mendapat penghargaan berupa tambahan transferan, sebaliknya bagi desa yang serapan anggarannya rendah bakal dikurangi dana desanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BYD gelar test drive MPV listrik BYD M6 di Bantul. Mobil listrik keluarga ini diklaim mampu menempuh 350 km sekali cas.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026
Desain iPhone 17 Pro kini menginspirasi HP Android. Huawei Nova 16 SE, Itel Power 80, HMD Asha 305, dan Oppo A7 Pro Max hadir dengan harga mulai Rp1 jutaan.
Prabowo menjelaskan SMA Unggul Garuda menggunakan kurikulum IB untuk menyiapkan siswa masuk universitas terbaik dunia.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan seluruh program dan capaian pembangunan di wilayahnya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat
Ford akan pindahkan produksi Lincoln dari China ke AS mulai 2030. Tarif impor Nautilus 52,5% jadi pendorong utama. Langkah ini ikuti strategi GM dan perkuat man