Kisah Disabilitas: Berawal dari Servis, Kini Miliki Toko Elektronik
Pasangan suami istri penyandang disabilitas, Wahyu Slamet, 45, dan Nunung Prihatini, 41, kini berhasil memiliki toko elektronik sekaligus membangun rumah
Ilustrasi uang. /Bisnis- Dwi Prasetya
Harianjogja.com, BANTUL-- Sebanyak 21 desa di Bantul belum bisa mencairkan dana desa tahap tiga yang nilainya mencapai sekitar Rp10 miliar. Desa-desa tersebut tidak bisa mencairkan dana desa tahap tiga karena serapan anggaran dana desa tahap satu dan dua masih rendah atau belum mencapai 70%. Pemerintah Kabupaten memita ke-21 desa tersebut segera mempercepat serapan anggaran.
Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Desa, Sekretariat Daerah Bantul, Kurniantoro mengatakan dana desa tahap tiga seharusnya sudah ditransfer ke rekening desa pada Juli lalu. Sementara tahap I Januari dan tahap II Maret. Namun hingga menjelang akhir tahun ini dari 75 desa masih ada 21 desa belum bisa mendapat transferan karena serapan anggaran masih rendah.
“Syarat pencairan dana desa tahap ketiga ada ketentuannya, realisasi tahap satu dan dua minimal 50 persen outputnya atau realisasi fisiknya dan 70 persen realisasi keuangannya. Ada 21 desa ini belum memenuhi syarat minimal untuk ditransfer,” kata Kurniantoro, di kantornya Rabu (30/10/2019) siang.
Pihaknya tidak diam saja namun sudah berupaya untuk mempercepat serapan dana desa di 21 desa dengan menyurati kepala desa, memanggil pemerintah desa, bahkan sampai mendatangi langsung desanya. Tim menanyakan langsung berbagai persoalan rendahnya serapan anggaran
Dari hasil penelusuran, kata dia, terdapat desa yang sudah melaksanakan kegiatan fisik lebih dari 50%, namun laporannya di Aplikasi Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN) belum diperbaharui, “Ada yang pekerjaan fisiknya sebenarnya sudah selesai tapi belum dibayar,” kata Kurniantoro.
Kurniantoro tidak menyebut 21 desa yang serapan anggaran dan kegiatannya masih rendah tersebut karena dikhawatirkan ada yang sudah memenuhi target namun laporannya belum diperbaharui di OM-SPAN.
Kepala Sub Bagian Keuangan Bagian Administrasi Desa, Sekretariat Daerah Bantul, Suprianta menambahkan dana desa tahun ini terbesar adalah Desa Selopamioro sebesar Rp2,2 miliar dan terkecil Desa Imogiri Rp903 juta.
Besar kecilnya dana desa, kata Suprianta, terdapat sejumlah indikator yang mempengaruhi, di antaranya jumlah penduduk keseluruhan, jumlah penduduk miskin, indek desa membangun (IDM) atau ketahanan sosial dan ketahanan ekonomi. “Tahun depan 2020 transferan dana desa tertinggi masih Desa Selopamioro dan terkecil masih Desa Imogiri,” kata dia.
Sementara total keseluruhan transferan dana desa untuk 75 desa di Bantul tahun ini sebesar Rp98,3 miliar. Suprianta mengatakan 2020 mendatang ada kenaikan transferan dana desa menjadi Rp106 miliar. Selain itu, tahun depan rencananya ada indikator penggunaan dana desa sehingga bagi desa yang serapan anggarannya tinggi akan mendapat penghargaan berupa tambahan transferan, sebaliknya bagi desa yang serapan anggarannya rendah bakal dikurangi dana desanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pasangan suami istri penyandang disabilitas, Wahyu Slamet, 45, dan Nunung Prihatini, 41, kini berhasil memiliki toko elektronik sekaligus membangun rumah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan sebagai salah satu pemerintah daerah berprestasi untuk kategori Pengendalian Inflasi Terbaik.
Perpanjang SIM A dan C di Kulonprogo lebih mudah melalui SIM Keliling 5 Juni 2026. Jadwal lengkap dan lokasi
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Sleman kembali membuka layanan SIM Keliling pada 5 Juni 2026.
FK-KMK UGM dan UGM Press menggelar bedah buku tentang programmatic assessment untuk mendukung transformasi asesmen pendidikan kedokteran berbasis OBE.
Polres Gunungkidul kembali membuka layanan SIM Keliling, hari ini.