Jemparingan, Gaya Memanah Khas Mataram Ini Ternyata Punya Makna Filosofi yang Dalam

Anak-anak mengikuti Gladen Hageng Jemparingan di Lapangan Panahan, Kota Jogja, Minggu (28/10/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
17 November 2019 22:17 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan Kota Jogja telah melaksanakan kegiatan Gelar Potensi Daerah Jemparingan 2019, sebagai upaya melestarikan budaya dan tradisi khas Mataram. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Minggu, 27 Oktober lalu, di Lapangan Panahan Kenari, Jalan Kenari, Muja Muju, Umbulharjo, Kota Jogja.

Jemparingan atau tradisi memanah merupakan olah raga panahan khas kerajaan Mataram. Berbeda dari panahan pada umumnya yang dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila. Hingga kini jemparingan masih lestari, baik di Jogja maupun di Surakarta.

“Asal usul jemparingan di Kesultanan Jogja, atau juga dikenal sebagai jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan kesultanan Jogja. Sri Sultan Hamengku Buwono I [1755-1792], raja pertama Jogja, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria,” kata Tri Sotya Atmi selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan Jemparingan 2019, melalui rilis, Minggu (17/11/2019).

Watak kesatria yang duimaksudkan adalah empat nilai yang harus disandang oleh warga Jogja. Keempat nilai yang diperintahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyatnya tersebut adalah sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh. Sawiji berarti berkonsentrasi, greget berarti semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti bertanggung jawab.

“Adapun filosofi jemparingan bertujuan untuk pembentukan watak sawiji itulah, maka jemparingan tampak sangat berbeda dengan panahan lain yang berfokus pada kemampuan pemanah untuk membidik target dengan tepat,” kata dia.

Pemanah jemparingan gaya Mataram tidak hanya memanah dalam kondisi bersila, namun juga tidak membidik dengan mata. Busur diposisikan mendatar di hadapan perut sehingga bidikan panah didasarkan pada perasaan pemanah.

Gaya memanah semacam ini sejalan dengan filosofi jemparingan gaya Mataram itu sendiri, pamenthanging gandewa pamanthenging cipta. “Filosofi ini memiliki arti bahwa membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. Dalam kehidupan sehari-hari, pamenthanging gandewa pamanthenging cipta memiliki pesan agar manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada tujuan tersebut agar cita-citanya dapat terwujud,” lanjut dia.

Adapun peralatan Jemparingan terdiri dari deder atau anak panah, bedor adalah mata panah, wulu atau bulu pada pangkal panah dan nyenyep yang merupakan bagian pangkal dari jemparingan.

Seiring dengan perkembangan zaman, jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta pun berkembang. Hingga kini terdapat berbagai cara memanah ataupun bentuk sasaran yang dibidik. Namun semuanya tetap berpijak pada filosofi awal jemparingan sebagai sarana latihan konsentrasi dan tidak meninggalkan cara memanah sambil duduk bersila.

Adapun kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka  menyemarakkan HUT Kota Jogja ke-263 beberapa waktu lalu. Dinas kebudayaan Kota Jogja bekerja sama dengan  Kodim 0734/YKA  untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Tidak hanya dilombakan, loka karya jemparingan juga digelar agar para atlet bisa memahami sejarah, makna dan filosofi yang terkandung dalam dalam olahraga tradisional tersebut.

Dikatakannya, kegiatan ini diikuti oleh warga masyarakat Jogja dan menghadirkan sejumlah tamu yakni Pengurus PERPANI DIY Bagian Tradisional, Rimawan dan Komandan Kodim 0734/YKA Kolonel ARH ZAenudin.